Media Sosial dan Tekanan Teman Sebaya Tingkatkan Kerentanan Remaja terhadap HIV

  • 06 Okt 2026 20:28 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Akses informasi tanpa filter di media sosial, terbatasnya komunikasi dengan orang tua, hingga tekanan teman sebaya menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan kerentanan remaja terhadap HIV di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi tersebut diperparah oleh pengaruh minuman beralkohol, narkoba, serta gaya hidup yang mendorong remaja mengambil risiko dalam pergaulan.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT, Dokter Yovita Anike Mitak mengatakan media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku anak muda. “Akses informasi tanpa filter di media sosial itu, baik HP, film porno, medsos, dan lain-lain, sehingga anak-anak yang melihat itu cenderung mau coba-coba,” ujar Dokter Nike saat dialog di RRI Kupang, Senin, 5 Oktober 2026.

Menurutnya, rasa ingin tahu yang tinggi pada masa pubertas membuat remaja rentan terpengaruh oleh informasi dan konten yang belum tentu sesuai dengan usia mereka. Karena itu, pendampingan orang tua dan edukasi yang tepat diperlukan agar remaja mampu memilah informasi serta memahami risiko perilaku seksual yang tidak aman.

“Orang tua masih sampai saat ini ada yang masih tabu membicarakan persoalan reproduksi maupun persoalan seksual kepada anak-anak secara jujur dan terbuka,” katanya. Selain keluarga dan media sosial, tekanan teman sebaya turut memengaruhi keputusan remaja dalam pergaulan.

Keinginan untuk dianggap hebat, berani, atau tidak ketinggalan dari kelompoknya dapat mendorong mereka melakukan tindakan berisiko, termasuk dalam hubungan pacaran dan perilaku seksual. “Faktor lainnya adalah konsumsi minuman beralkohol dan penggunaan narkoba yang dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan,” ujar Dokter Nike.

Dia juga menyoroti pengaruh gaya hidup hedonis yang terlihat di media sosial, ketika keinginan mengikuti tren tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi sehingga dapat mendorong sebagian remaja mengambil jalan yang berisiko, termasuk terjerumus dalam eksploitasi seksual. Untuk menekan kerentanan tersebut, diperlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam menyediakan edukasi kesehatan reproduksi yang benar dan sesuai usia.

Komunikasi terbuka tanpa menghakimi, pengawasan penggunaan media sosial, serta pemahaman tentang pencegahan HIV perlu diperkuat agar remaja mampu melindungi diri dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....