Nakes Jadi Korban Gempa, Tetap Berjibaku Layani Warga Terdampak di Flores

  • 03 Okt 2026 18:19 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah upaya penanganan kesehatan pascagempa Flores, terdapat persoalan yang tak kalah penting untuk mendapat perhatian yakni tenaga kesehatan (nakes) di wilayah terdampak juga menjadi korban bencana. Ketua Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Koordinator Bencana Gempa Flores 2026 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N, mengatakan para nakes di sejumlah fasilitas kesehatan terdampak harus tetap memberikan pelayanan meski mereka sendiri menghadapi dampak gempa.

“Sebenarnya kalau kita mau jujur ke diri sendiri, nakes yang ada di wilayah terdampak itu juga harus dibantu,” ujar Yuliana dalam Dialog Kupang Menyapa Pro 1 RRI Kupang, Kamis 1 Oktober 2026. Menurut dia, kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang terdampak gempa, mulai dari Manggarai Timur, Nagekeo, hingga wilayah lainnya di Flores.

Para nakes di puskesmas harus tetap berjibaku memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Situasi itu menjadi tantangan tersendiri karena fasilitas kesehatan di sejumlah lokasi turut mengalami kerusakan.

Kepala LKC Dompet Dhuafa NTT, Ummi K. Muhammad, mengatakan salah satu lokasi yang mendapat intervensi adalah Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Di Desa Satarkampas, misalnya, pelayanan kesehatan dilakukan dari posko dan secara mobile karena fasilitas puskesmas terdampak cukup parah.

Warga yang terdampak harus mengungsi ke tenda darurat yang dibangun pemerintah. Tim kesehatan Dompet Dhuafa kemudian bergerak dari Satarkampas menuju titik-titik pengungsian yang membutuhkan pelayanan.

Jangkauan wilayah menjadi tantangan karena perjalanan menuju beberapa lokasi dapat memakan waktu hingga tiga atau empat jam. “Setiap hari tim mobile, tentunya dengan koordinasi dulu dengan dinas kesehatan di mana lokasi yang membutuhkan, sehingga tidak tumpang tindih,” kata Ummi.

Pola koordinasi tersebut juga penting karena pada masa awal bencana banyak tenaga kesehatan dan organisasi kemanusiaan datang secara bersamaan. Tanpa pemetaan kebutuhan, bantuan berisiko terkonsentrasi di satu lokasi sementara wilayah lain belum mendapatkan pelayanan.

Selain persoalan akses dan fasilitas kesehatan, kelompok rentan juga menjadi perhatian. Dompet Dhuafa, membuka dapur pemberian makanan bagi bayi dan anak (PMBA), termasuk untuk ibu hamil di lokasi pengungsian.

Intervensi tersebut dilakukan karena kondisi pengungsian dapat meningkatkan risiko persoalan gizi. Dari satu lokasi yang telah diintervensi, terdapat 30 balita dan empat ibu hamil sebagai sasaran.

Dua balita diketahui mengalami penurunan berat badan, sementara seorang ibu hamil mengalami kurang energi kronis. Untuk kelompok lansia, tim juga menemukan warga dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

Ada pula pasien tuberkulosis (TBC) yang terpaksa terputus pengobatannya karena keterbatasan akses. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan pascagempa tidak berhenti pada penanganan korban luka. Keberlangsungan pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan kelompok rentan, serta dukungan terhadap nakes yang ikut terdampak menjadi bagian penting dari fase pemulihan. Bagi Yuliana, perhatian terhadap nakes menjadi penting karena mereka berada di garis depan pelayanan, sekaligus menghadapi dampak bencana di wilayah tempat mereka bekerja dan tinggal. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....