Penerbangan Penuh, Tim Dokter Tempuh Jalur Darat untuk Tembus Lokasi Gempa Flores

  • 01 Okt 2026 17:05 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Upaya tenaga medis menjangkau wilayah terdampak gempa Flores pada Agustus 2026 tidak berjalan mudah. Selain kerusakan infrastruktur dan kondisi medan, keterbatasan akses penerbangan membuat tim dokter harus mencari jalur alternatif untuk bisa segera tiba di lokasi bencana.

Ketua Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Koordinator Bencana Gempa Flores 2026, dari IDI NTT, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N, mengatakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur telah membentuk tim medis hanya beberapa jam setelah gempa terjadi pada 15 Agustus 2026. Malam itu, pengurus IDI Wilayah NTT berkumpul di rumah Ketua IDI Wilayah NTT, dr. Stefanus Soka. Dari pertemuan tersebut ditetapkan enam dokter yang menjadi tim awal untuk diterjunkan ke wilayah terdampak.

Tim tersebut terdiri dari dokter spesialis emergensi, dokter spesialis bedah, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis ortopedi serta dua dokter umum. Rencananya, keenam dokter diberangkatkan pada 16 Agustus.

Namun, rencana tersebut terkendala akses transportasi. "Karena pada saat itu kami tidak mendapatkan link akses ke sana. Pesawatnya full semua dan beberapa penerbangan dibatalkan," ujar dr. Yuliana dalam keterangannya kepada RRI pada Dialog Kupang Menyapa, Kamis 1 Oktober 2026.

dr. Yuliana Imelda Ora Adja. (Foto: RRI/Delvin)

Kondisi tersebut membuat tim medis harus mencari jalur lain agar pelayanan kesehatan tetap dapat segera diberikan kepada masyarakat terdampak. Dua dokter akhirnya menjadi tim pertama yang diberangkatkan pada 17 Agustus melalui Maumere.

Keduanya adalah dr. Iren, Sp.An, dan dr. Stefanus Nanguy, Sp.B. Dengan dukungan penerbangan dari Kementerian Kesehatan, kedua dokter tersebut menuju Maumere dari Kupang.

Setelah tiba di Maumere, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Manggarai Timur. Perjalanan tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan medis dapat segera menjangkau wilayah yang terdampak gempa.

Setibanya di wilayah Manggarai Timur, tim dokter langsung melakukan penanganan awal terhadap masyarakat terdampak. Sehari kemudian, pada 18 Agustus, empat dokter lainnya menyusul melalui jalur Ruteng untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah bencana.

Persoalan akses tidak hanya dialami oleh tim IDI NTT. Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Agustina J. Ledoh, S.Si., Apt., M.Kes., mengatakan pada fase awal bencana, penerbangan menjadi salah satu kendala utama dalam mobilisasi tenaga kesehatan.

Selain keterbatasan penerbangan, kondisi sejumlah landasan juga menjadi pertimbangan karena aktivitas gempa masih berlangsung. "Awalnya kendalanya banyak terkait penerbangan. Yang satu karena masih sering terjadi gempa. Ada landasan-landasan yang tidak memungkinkan untuk pendaratan," ujar Agustina dalam dialog Kupang Menyapa, Kamis 1 Oktober 2026.

Agustina J. Ledoh. (Foto: RRI/Delvin)

Kondisi tersebut membuat mobilisasi tim kesehatan harus menyesuaikan dengan bandara yang dapat digunakan. Tim dari Kementerian Kesehatan yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) kemudian dikerahkan menggunakan pesawat Hercules.

Namun, pesawat tersebut hanya dapat mendarat di landasan yang lebih besar, antara lain di Maumere dan Labuan Bajo. Dari titik tersebut, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju wilayah yang menjadi prioritas penanganan.

Mobilisasi tenaga medis tidak dilakukan secara serentak ke satu titik. Penempatan tim disesuaikan dengan laporan kebutuhan dari masing-masing kabupaten terdampak.

Wilayah yang membutuhkan dokter spesialis, perawat, obat-obatan maupun peralatan kesehatan akan mendapatkan dukungan sesuai kondisi di lapangan. Menurut Agustina, kebutuhan terhadap dokter spesialis, khususnya dokter ortopedi dan bedah, cukup tinggi pada fase awal karena banyak korban mengalami trauma akibat bangunan yang runtuh.

Selain tenaga medis lokal, bantuan juga datang dari berbagai daerah di Indonesia. Tenaga kesehatan dari Aceh, Kalimantan, Jawa dan sejumlah daerah lainnya dimobilisasi melalui sistem Tenaga Cadangan Kesehatan Emergency Medical Team (TCK-EMT).

Provinsi Nusa Tenggara Barat juga mengirimkan 56 personel beserta ambulans untuk membantu penanganan di Manggarai Timur, khususnya wilayah Dampek dan Pota. Dukungan kemudian datang dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Bagi tim medis, keterbatasan akses transportasi bukan berarti pelayanan dapat ditunda. Setelah jalur udara tidak sepenuhnya dapat diandalkan, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat dan laut untuk menjangkau masyarakat yang berada di wilayah terdampak.

dr. Yuliana sendiri kemudian turun langsung ke Manggarai Tengah dan Manggarai Timur hingga Dampek dan Pota, wilayah yang disebut mengalami dampak sangat berat. Di sejumlah lokasi, hampir seluruh rumah mengalami kerusakan.

Ada yang rata dengan tanah, sementara bangunan lainnya retak dan tidak lagi layak dihuni. Kondisi tersebut membuat kebutuhan masyarakat tidak hanya berupa penanganan korban luka, tetapi juga pelayanan kesehatan berkelanjutan bagi warga yang harus tinggal di pengungsian.

Di tengah akses yang sulit, keterbatasan fasilitas kesehatan dan gempa susulan yang masih terjadi, para tenaga medis terus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Bagi mereka, perjalanan panjang melalui jalur darat maupun laut menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat terdampak gempa tidak kehilangan akses terhadap pelayanan kesehatan ketika fasilitas dan akses transportasi belum sepenuhnya pulih. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....