Bukan karena Lelah, Dokter Mengaku Sakit Melihat Kehancuran Flores

  • 01 Okt 2026 17:05 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Ada pemandangan yang tidak mudah dilupakan oleh seorang dokter. Bukan darah, bukan luka, dan bukan pula rasa lelah setelah berhari-hari memberikan pelayanan kesehatan.

Bagi dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N, yang paling membekas setelah turun langsung ke lokasi gempa Flores adalah melihat rumah-rumah warga yang hancur dan kehidupan masyarakat yang berubah dalam sekejap. Ketua Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Koordinator Bencana Gempa Flores 2026 IDI NTT itu baru kembali ke Kupang setelah berada di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Manggarai Tengah dan Manggarai Timur di Dampek dan Pota.

Ia mengaku kondisi di lapangan jauh lebih berat daripada yang terlihat melalui pemberitaan maupun gambar. "Saya ke sana sampai sakit. Sakit bukan karena capek, tapi sakit karena sedih melihat hancur," ujar dr. Yuliana pada Dialog Kupang Menyapa, 1 Oktober 2026.

Kalimat itu menggambarkan pengalaman emosional yang dirasakannya ketika melihat langsung kondisi masyarakat pascagempa. Salah satu wilayah yang paling membekas bagi dr. Yuliana adalah Dampek.

Di kawasan tersebut, kerusakan bangunan terlihat hampir di seluruh penjuru. "Di Dampek itu hanya satu rumah yang tidak terdampak," katanya.

Rumah-rumah lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda. Sebagian bangunan bahkan rata dengan tanah, sementara bangunan yang masih berdiri mengalami retakan dan tidak lagi layak dihuni.

Bagi warga, rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini berubah menjadi sumber bahaya. Akibatnya, banyak keluarga harus meninggalkan rumah dan tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Namun, persoalan baru muncul ketika warga harus tinggal dalam kondisi darurat untuk waktu yang panjang. Lebih dari sekadar kehilangan tempat tinggal, warga juga menghadapi persoalan kesehatan.

Menurut dr. Yuliana, keluhan infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA serta diare mulai banyak ditemukan setelah warga tinggal di pengungsian. Kondisi lingkungan dan keterbatasan fasilitas sanitasi menjadi tantangan tersendiri.

Ia mencontohkan kondisi pengungsian di Reo. Tenda-tenda warga dibangun di lorong jalan yang berada di dekat saluran pembuangan.

"Kemarin seperti di Reo itu tendanya dibangun di lorong jalan yang samping-sampingnya got. Saya lewat saja aroma got itu tercium oleh kita," ungkapnya. Warga, kata dia, tidak memiliki banyak pilihan.

Rumah-rumah di sekitar mereka telah roboh atau mengalami kerusakan sehingga tidak aman untuk ditempati. Tenda akhirnya menjadi satu-satunya tempat berlindung.

Kerusakan akibat gempa juga membuat sistem pelayanan kesehatan harus beradaptasi. Di Ruteng, rumah sakit yang sebelumnya menjadi pusat pelayanan kesehatan tidak dapat digunakan secara normal karena kondisi bangunannya.

Pemerintah daerah kemudian membangun rumah sakit lapangan sebagai fasilitas pelayanan sementara. Awalnya rumah sakit lapangan dibangun di stadion.

Namun, karena persoalan akses, lokasi tersebut kemudian dipindahkan ke sekitar Bandar Udara Frans Sales Lega. Kondisi rumah sakit lapangan pun tidak sepenuhnya mudah.

Cuaca menjadi salah satu tantangan. Pada siang hari suhu terasa sangat panas, sementara malam hari suhu berubah menjadi dingin.

Bahkan, menurut dr. Yuliana, fasilitas yang digunakan untuk mendukung kamar operasi sempat mengalami masalah akibat panas. "Balon udara yang digunakan untuk kamar operasi pun sempat meledak karena panas," ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, gempa susulan juga masih dirasakan. Tremor dengan kekuatan sekitar 4 hingga 5 masih terjadi, menambah kewaspadaan warga dan tenaga kesehatan yang bekerja di lapangan.

Tugas para dokter di lokasi bencana akhirnya tidak sebatas menangani korban luka akibat gempa. Mereka juga harus menghadapi persoalan kesehatan yang muncul setelah bencana: penyakit saluran pernapasan, diare, kondisi sanitasi pengungsian, kebutuhan obat-obatan hingga keterbatasan fasilitas kesehatan.

IDI Wilayah NTT bersama berbagai pihak kemudian menyalurkan bantuan kepada fasilitas kesehatan yang terdampak. Sebanyak 25 puskesmas di Manggarai Tengah mendapatkan dukungan obat-obatan dan berbagai alat kesehatan.

Bantuan yang disalurkan antara lain termometer, tensimeter, USG Doppler, alat nebulizer, regulator oksigen, kursi roda dan tongkat. Kebutuhan masyarakat di pengungsian juga diperhatikan, termasuk pembalut dan popok.

Bantuan tersebut kemudian didistribusikan langsung ke sejumlah puskesmas dan fasilitas kesehatan yang membutuhkan. Di tengah tugas kemanusiaan tersebut, para tenaga medis harus tetap menjalankan pekerjaan meski berhadapan dengan pemandangan yang secara emosional tidak mudah.

dr. Yuliana menjadi salah satu dari banyak tenaga kesehatan yang memilih turun langsung ke lokasi untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan. Ia datang bukan hanya membawa obat dan peralatan medis.

Ia datang melihat langsung rumah warga yang runtuh, tenda-tenda pengungsian yang serba terbatas, fasilitas kesehatan yang rusak, serta masyarakat yang harus memulai kembali kehidupannya dari kondisi yang nyaris tidak tersisa. Dan dari perjalanan itu, ada satu kesan yang tertinggal kuat.

Bagi seorang dokter yang terbiasa menghadapi pasien dan berbagai kondisi kegawatdaruratan, ternyata bukan rasa lelah yang paling berat. Melainkan ketika harus menyaksikan sendiri sebuah wilayah yang hancur dan melihat masyarakat kehilangan tempat tinggalnya.

"Sakit bukan karena capek, tapi sakit karena sedih melihat hancur." Kalimat dr. Yuliana itu menjadi gambaran bahwa di balik setiap tim medis yang datang ke lokasi bencana, ada pula sisi manusia yang ikut merasakan duka masyarakat yang mereka layani. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....