RS Rusak, Rumah Sakit Lapangan Jadi Tumpuan Layanan Kesehatan di Ruteng
- 01 Okt 2026 17:12 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak rumah warga. Fasilitas kesehatan yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat juga ikut terdampak.
Di Ruteng, kondisi rumah sakit yang tidak lagi layak digunakan membuat pelayanan kesehatan harus beradaptasi. Rumah sakit lapangan kemudian dibangun untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh layanan medis di tengah situasi darurat.
Ketua Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Koordinator Bencana Gempa Flores 2026, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N, mengatakan rumah sakit di Ruteng tidak dapat digunakan seperti dalam kondisi normal setelah gempa. "Rumah sakit Ruteng itu tidak layak digunakan," ujar dr. Yuliana dalam Dialog Kupang Menyapa, Kamis 1 Oktober 2026.
Pemerintah daerah kemudian mengambil langkah dengan membangun rumah sakit lapangan. Awalnya fasilitas tersebut dibangun di kawasan stadion.
Namun, karena akses menuju lokasi dinilai sulit, rumah sakit lapangan kemudian dipindahkan ke sekitar Bandar Udara Frans Sales Lega. Pemindahan tersebut dilakukan agar akses menuju fasilitas kesehatan darurat lebih memungkinkan bagi masyarakat maupun tenaga medis.
Kehadiran rumah sakit lapangan menjadi penting karena kebutuhan pelayanan kesehatan tidak berhenti setelah fase awal bencana. Masyarakat masih membutuhkan penanganan medis, sementara sebagian fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.
Di sisi lain, tenaga medis juga harus bekerja dalam kondisi yang berbeda dari rumah sakit permanen. Suhu menjadi salah satu tantangan utama.
Menurut dr. Yuliana, kondisi di Ruteng sangat panas pada siang hari, sementara malam hari terasa sangat dingin. Kondisi tersebut turut memengaruhi kenyamanan pasien maupun tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas darurat.
Bahkan, fasilitas yang digunakan untuk mendukung kamar operasi sempat mengalami masalah. "Balon udara yang digunakan untuk kamar operasi pun sempat meledak karena panas," kata dr. Yuliana.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa membangun rumah sakit lapangan tidak hanya soal menyediakan tempat untuk merawat pasien. Infrastruktur pendukung seperti pengaturan suhu, kelistrikan, peralatan medis dan kenyamanan pasien juga menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan dapat berlangsung.
Tantangan lainnya adalah aktivitas gempa yang masih dirasakan masyarakat. dr. Yuliana menyebut tremor dengan kekuatan sekitar 4 hingga 5 masih terjadi ketika tim berada di lokasi.
Kondisi tersebut membuat masyarakat dan tenaga kesehatan harus tetap waspada ketika pelayanan berlangsung. Rumah sakit lapangan menjadi tempat yang harus mampu beroperasi dalam situasi yang belum sepenuhnya stabil.
Para tenaga medis tidak hanya menangani korban akibat cedera gempa, tetapi juga melayani berbagai keluhan kesehatan yang muncul setelah masyarakat tinggal dalam pengungsian. Di antaranya adalah infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan diare.
Selain membangun fasilitas layanan darurat, upaya pemulihan juga dilakukan dengan memperkuat puskesmas di wilayah terdampak. IDI Wilayah NTT bersama berbagai pihak menyalurkan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan ke 25 puskesmas di Manggarai Tengah.
Bantuan yang diberikan antara lain termometer, tensimeter, USG Doppler, alat nebulizer, regulator oksigen, kursi roda dan tongkat. Kebutuhan dasar masyarakat juga menjadi bagian dari bantuan, termasuk pembalut dan popok.
Bantuan tersebut didistribusikan langsung oleh tim ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan. Dukungan juga diberikan kepada sejumlah fasilitas kesehatan lainnya, termasuk pustu di Manggarai Barat serta puskesmas di Reo dan Dampek.
Kerusakan rumah sakit menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pemulihan pascabencana. Ketika fasilitas permanen belum dapat digunakan secara normal, rumah sakit lapangan menjadi jembatan agar pelayanan kesehatan tidak terputus.
Namun, fasilitas darurat juga membutuhkan dukungan berkelanjutan. Tenaga medis, obat-obatan, alat kesehatan, listrik, pengaturan suhu dan berbagai kebutuhan logistik harus dipastikan tersedia agar pelayanan dapat terus berjalan.
Bagi masyarakat terdampak gempa, rumah sakit lapangan bukan sekadar bangunan sementara. Di tengah rumah-rumah yang runtuh dan fasilitas kesehatan yang rusak, tempat itu menjadi salah satu tumpuan untuk mendapatkan pertolongan medis hingga kondisi kembali memungkinkan untuk dipulihkan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....