Akademisi Kupang: Imunisasi Lengkap Kunci Utama Cegah Penyakit Berbahaya

  • 11 Mei 2026 11:18 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Program imunisasi nasional dinilai menjadi langkah penting dalam mencegah berbagai penyakit berbahaya yang hanya bisa dicegah melalui vaksinasi. Dalam wawancara bersama Akademisi Kesehatan, Dr. Ina Debora Ratu Ludji pada April 2026 lalu di Poltekkes Kemenkes Kupang, menegaskan imunisasi merupakan hak kesehatan masyarakat yang diberikan secara gratis oleh pemerintah demi melindungi generasi masa depan dan diperuntukan bagi anak, Ibu hamil serta masyarakat.

Menurutnya, capaian imunisasi nasional saat ini sudah berada di kisaran 70 hingga 76 persen, namun kondisi di Nusa Tenggara Timur masih memprihatinkan. “Data Dinas Kesehatan bulan November 2025 menunjukkan cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0 sampai 1 tahun di NTT baru mencapai sekitar 50 persen, ini masih sangat rendah,” ungkap Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang ini.

Angka ini masih jauh dari target nasional maupun target RPJMN yang diharapkan dapat memberikan kekebalan kelompok atau herd immunity. Menurut pendapat Dr. Ina, rendahnya capaian ini sangat memprihatinkan karena berisiko memicu kembalinya wabah penyakit yang seharusnya sudah bisa dikendalikan.

Dr. Ina menjelaskan rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketakutan anak disuntik, kekhawatiran efek samping, hingga maraknya hoaks terkait vaksin. “Masih ada masyarakat yang percaya berita bohong soal vaksin halal atau tidak halal, padahal imunisasi ini sangat penting untuk melindungi anak dari penyakit mematikan,” urainya.

Selain itu, menurutnya, balik kemudahan akses yang diberikan pemerintah, masih terdapat persepsi keliru di tengah masyarakat mengenai status vaksin yang disediakan secara cuma-cuma. Dr. Ina menekankan kebijakan pemberitan vaksin secara gratis bukan berarti kualitas yang diberikan adalah murahan, melainkan bentuk investasi besar negara untuk melindungi warganya.

"Gratis bukan berarti murahan, justru karena riset dan pembuatannya sangat mahal, pemerintah memberikan bonus ini agar seluruh masyarakat terproteksi." ucapnya. Sebagai akademisi yang pernah terlibat dalam pendampingan imunisasi campak rubela tahun 2018, Dr. Ina menilai keberhasilan program imunisasi membutuhkan kerja sama semua pihak.

Guna mengatasi hambatan akses di pelosok, diperlukan inovasi strategis seperti layanan jemput bola atau sweeping dari rumah ke rumah oleh tenaga kesehatan dan kader. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tokoh agama, pemerintah desa, hingga aparat keamanan terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di daerah sulit terjangkau.

Dr. Ina menyarankan agar data sasaran imunisasi di setiap tingkat RT/RW dipantau secara ketat untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari jadwal vaksinasi. Peran keluarga, terutama ayah dan ibu muda, menjadi garda terdepan dalam memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan kesehatan yang paripurna sejak dini.

Komitmen bersama dari seluruh lapisan masyarakat diharapkan mampu membawa NTT mencapai target imunisasi 100% demi menyongsong generasi emas 2045 yang sehat dan kompetitif. Dr. Ina berpesan agar para orang tua tidak lalai mencatat jadwal dan menyempatkan waktu demi masa depan buah hati mereka yang berharga.

“Cakupan imunisasi ibu hamil di tahun 2025 masih sekitar 20 persen, padahal imunisasi ini penting untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir,” katanya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap berisiko mengalami berbagai penyakit serius seperti TBC, polio, campak rubela, hepatitis, hingga difteri.

“Kalau anak sering sakit karena infeksi, maka nutrisi yang masuk hanya dipakai untuk proses penyembuhan, bukan untuk pertumbuhan. Ini yang berkaitan erat dengan stunting,” kata Ina. Ia berharap seluruh elemen masyarakat di NTT mulai dari keluarga, kader posyandu, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga pemerintah daerah dapat bergerak bersama meningkatkan kesadaran imunisasi.

“Imunisasi itu gratis bukan berarti murahan, justru karena sangat mahal dan penting maka diberikan gratis oleh pemerintah. Jangan lelah mengajak masyarakat datang imunisasi demi generasi sehat NTT di masa depan,” ujarnya, mengakhiri. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....