Sterilisasi Massal jadi strategi pengendalian populasi hewan Rabies di NTT
- 18 Sep 2026 14:22 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Upaya pengendalian rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya mengandalkan vaksinasi. Pengendalian populasi hewan penular rabies (HPR) melalui sterilisasi mulai didorong sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan risiko penyebaran penyakit mematikan tersebut.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan World Rabies Day NTT 2026 dan Kick Off Sterilisasi Massal bertajuk “Stronger Together: Human Population Management for a Rabies-Free and Dog Meat Trade-Free Future” di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Nusa Cendana (RSHP Undana), Naikoten, Kota Kupang, Jumat, 18 September 2026.
Program yang diinisiasi JAAN Domestic bersama Humane World for animals itu melibatkan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Undana, Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Undana, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) NTT, Pemerintah Provinsi NTT, serta Natha Satwa Nusantara. Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, mengatakan pengendalian rabies membutuhkan lebih dari sekadar vaksinasi.

Menurutnya, jumlah populasi HPR juga perlu dikendalikan agar upaya pencegahan dapat berjalan lebih efektif. “Kalau sendiri kita tidak bisa atasi. Jadi kita perlu banyak bekerja sama dengan banyak pihak,” katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan sterilisasi kali ini menyasar anjing, sementara sterilisasi kucing dijadwalkan pada hari berikutnya. Dari sekitar 80 hewan yang menjadi sasaran pendaftaran, sekitar setengahnya telah melakukan pendaftaran dan sekitar 25 hewan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk menjalani operasi.
Sterilisasi tidak dapat dilakukan terhadap hewan yang baru saja mendapatkan vaksinasi. Selain itu, hewan harus berada dalam kondisi sehat dan memenuhi persyaratan usia untuk menjalani operasi.
Menurut Christina, Kota Kupang menjadi lokasi awal pelaksanaan program sebelum dilakukan evaluasi untuk kemungkinan direplikasi di kabupaten lain. Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Timor Tengah Selatan (TTS), yang berdasarkan data yang disampaikannya masih mencatat jumlah HPR dan kasus kematian yang tinggi.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Kupang tengah mengejar target vaksinasi rabies secara menyeluruh. Kepala Dinas Pertanian Kota Kupang, Matheus A.B.H. Da Costa, mengatakan pihaknya mengerahkan 14 regu vaksinator untuk menyisir enam kecamatan dan 51 kelurahan di Kota Kupang.

Program vaksinasi tersebut dimulai 11 Agustus dan ditargetkan selesai pada 30 September 2026. Hingga Jumat 18 September, capaian vaksinasi telah mencapai sekitar 90 persen dari target 20 ribu vaksin.
“Posisi sekarang baru tanggal 18, kami sudah ada di posisi 90 persen dari target 20 ribu vaksin,” ujarnya.
Menurut Matheus, tantangan di lapangan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga masih adanya warga yang menolak anjingnya divaksin karena khawatir hewan tersebut akan mati setelah vaksinasi. Karena itu, pemerintah terus melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui berbagai saluran, termasuk media massa, radio, serta rencana penyebaran pamflet di kelurahan dan tempat-tempat umum.
Ia menegaskan, pencegahan rabies bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. “Bahaya rabies bukan bahaya hanya untuk mereka sendiri, tapi bahaya untuk kita bersama,” katanya.
Dukungan terhadap pengendalian rabies juga datang dari RSHP Undana. Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Nusa Cendana ke-64 dan World Rabies Day, rumah sakit tersebut menyediakan 50 vaksin gratis bagi masyarakat.
Kepala RSHP Undana, drh. Tri Utami, M.Sc., mengatakan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Namun, tidak semua hewan yang didaftarkan dapat langsung menjalani operasi karena terdapat sejumlah persyaratan medis yang harus dipenuhi.

Masyarakat yang membawa hewan peliharaannya harus mengikuti pemeriksaan sebelum operasi untuk memastikan kondisi hewan layak menjalani tindakan.
“Kami benar-benar menerapkan persyaratan operasi seperti sudah melakukan vaksinasi, hewan dalam kondisi sehat, sudah cukup usia untuk dilakukan operasi,” katanya, menjelaskan.
Empat dokter hewan disiagakan RSHP Undana untuk mendukung proses operasi, mulai dari persiapan sebelum tindakan hingga pelaksanaan operasi. Tri Utami berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sosial sesaat, tetapi memberikan dampak nyata dalam pengendalian populasi HPR dan mendukung keberlanjutan program vaksinasi.
Pengendalian rabies juga membutuhkan sistem respons cepat ketika terjadi kasus gigitan. Kepala UPTD Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Hilda S.D. Berek, M.Sc., menjelaskan bahwa pemerintah provinsi berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota ketika terjadi kasus gigitan atau dugaan rabies.

UPTD Veteriner berperan antara lain dalam pengambilan sampel dari hewan yang diduga terinfeksi. Pemeriksaan cepat dilakukan untuk mengetahui status positif atau negatif, kemudian sampel juga dikirim ke Denpasar, Bali, untuk memperoleh hasil konfirmasi.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan positif rabies, informasi tersebut segera dikoordinasikan dengan dinas terkait agar penanganan terhadap manusia yang tergigit dapat dilakukan. Hilda mengatakan kasus rabies tahun ini menunjukkan penurunan dibandingkan sebelumnya.
Ia berharap vaksinasi dan sterilisasi dapat dilakukan secara berkelanjutan terhadap anjing maupun kucing. “Dengan adanya sterilisasi, sangat-sangat terkendali rabies di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Operation Officer (COO) JAAN Domestic Foundation, drh. Merry Ferdinandez, M.Sc., M.BA., Cert. FFCP-V., dalam sambutan yang disampaikan secara virtual menekankan bahwa pengendalian rabies membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia menilai World Rabies Day NTT 2026 menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan dan pengendalian rabies sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan.

Menurutnya, pengendalian rabies bukan semata-mata upaya memerangi penyakit setelah terjadi, tetapi juga mencegah risiko sebelum penyakit berkembang. Karena itu, ia mengajak pemerintah, tenaga kesehatan, dokter hewan, akademisi, organisasi, komunitas, dan masyarakat untuk menjalankan kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, termasuk vaksinasi, perawatan yang baik, dan pengendalian populasi.
Semangat “Stronger Together” menjadi pesan utama kegiatan tersebut: rabies tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Di Kupang, pesan itu kini diterjemahkan ke dalam beberapa langkah sekaligus, vaksinasi, sterilisasi, edukasi masyarakat, surveilans, respons terhadap kasus gigitan, dan kolaborasi lintas lembaga.
Target akhirnya bukan sekadar menurunkan angka kasus pada satu momentum peringatan World Rabies Day, tetapi membangun upaya yang konsisten dan berkelanjutan agar NTT dapat mencapai kondisi bebas rabies sekaligus meningkatkan kesejahteraan hewan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....