Ancaman Tersembunyi Penyakit Chagas di Iklim Tropis

  • 07 Apr 2026 10:42 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Penyakit Chagas atau silent disease menjadi ancaman kesehatan serius yang perlu diwaspadai karena sifatnya yang berkembang secara perlahan namun dapat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Trypanosoma cruzi yang ditularkan melalui gigitan serangga pembawa parasit atau sering disebut "kissing bug".

Akademisi sekaligus praktisi kesehatan hewan, Drh. Galuh Wiedani K.D. Larasati, M.Si, melalui sambungan telepon kepada RRI Selasa, 7 April 2026, menjelaskan bahwa penyakit ini disebut silent disease karena mayoritas penderita tidak menunjukkan gejala klinis yang menonjol pada fase awal.

“Fase akutnya bisa berlangsung berminggu-minggu, namun gejalanya sering dianggap sepele, seperti mata merah atau bengkak mirip bintitan. Padahal, parasit ini diam-diam berkembang biak di aliran darah dan bisa merusak jantung serta sistem pencernaan penderitanya,” ujarnya.

Menurut Galuh, serangga vektor triatomin (pembawa parasit) biasanya hidup di sela-sela dinding batu bata yang belum diplester atau atap jerami. Meskipun kasus resmi belum dilaporkan secara masif di Indonesia, potensi penyebaran tetap ada karena faktor iklim tropis yang mendukung keberadaan serangga tersebut.

Selain melalui gigitan serangga, ia menyebutkan penularan juga dapat terjadi secara vertikal dari ibu hamil ke janin dengan risiko lebih dari 50 persen. Penularan lainnya bisa melalui transfusi darah, donor organ, atau konsumsi makanan yang terkontaminasi kotoran serangga pembawa parasit.

Terkait pengobatan, drh.Galuh menegaskan bahwa penyakit Chagas dapat disembuhkan total jika dideteksi sejak dini. Penderita biasanya diberikan obat antiparasit oral selama dua bulan untuk mematikan parasit sebelum masuk ke fase kronis yang sulit disembuhkan.

Untuk mencegah penularan, drh. Galuh mengimbau masyarakat melakukan langkah-langkah pencegahan mandiri, seperti menggunakan kelambu saat tidur untuk menghindari gigitan serangga, menggunakan losion anti-serangga secara rutin, menutup lubang pada dinding rumah yang menjadi akses masuk serangga, dan menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta bagi ibu hamil, melakukan pemeriksaan kehamilan secara berkala.

Drh. Galuh mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sebagai langkah utama pencegahan penyakit Chagas. “Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kebersihan diri dan lingkungan (personal hygiene) adalah kunci agar penyakit ini tidak berkembang,” katanya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....