Dinkes NTT Percepat Eliminasi TBC Lewat Skrining Massal
- 04 Feb 2026 14:54 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis (TBC) melalui skrining massal dan pengobatan gratis bagi masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi NTT, Maria Elisabeth Anggreini, S.Farm., Apt., MPH, Rabu (4/2/2026) saat diwawancarai wartawan RRI Kupang.
Maria menjelaskan, secara global TBC masih menjadi salah satu isu kesehatan utama dan menempati peringkat ketiga penyakit yang menjadi perhatian dunia. Di Indonesia, penuntasan TBC juga menjadi prioritas nasional melalui Program Qiuck Win Kedua Presiden Prabowo Subianto, yang secara khusus menargetkan eliminasi TBC.
“Pemerintah Indonesia memberikan perhatian penuh terhadap eliminasi TBC. Ini masuk pada bagian kedua dalam delapan program prioritas nasional, dengan target capaian indikator yang harus dipenuhi oleh seluruh daerah,” kata Maria.
Ia menyebutkan, terdapat lima indikator utama dalam upaya eliminasi TBC. Indikator pertama adalah penemuan kasus, yang dilakukan melalui skrining massal mulai dari tingkat provinsi hingga puskesmas.
Skrining difokuskan pada populasi umum dan kelompok kontak erat pasien TBC. “Semakin banyak masyarakat yang disaring, semakin jelas gambaran kasus TBC di NTT. Jika ditemukan positif, maka langsung masuk ke indikator kedua, yaitu pengobatan,” ujarnya.
Maria menegaskan, pengobatan TBC di Indonesia diberikan secara gratis dan tersedia di seluruh fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit. Dinkes NTT juga membangun jejaring dengan klinik swasta untuk mendukung skrining dan pengobatan TBC.
Indikator berikutnya mencakup penanganan pasien yang sensitif maupun resisten terhadap obat, serta pasien yang mengalami putus obat. Selain itu, terdapat program Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi anak-anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC.
“Program ini dikenal dengan sebutan Temukan, Obati, Sampai Sembuh atau TOSS TBC, yang merupakan program nasional Kementerian Kesehatan,” tuturnya.
Terkait penyebab TBC, Maria menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menular melalui droplet di udara. Penularan mudah terjadi apabila penderita tidak menerapkan protokol kesehatan dan tidak menjalani pengobatan secara teratur.
Untuk kondisi di NTT, cakupan penemuan kasus TBC masih berada di bawah target nasional sebesar 90 persen. Oleh karena itu, peningkatan skrining terus dilakukan agar data kasus yang diperoleh benar-benar valid.
“Belum bisa dikatakan angka TBC meningkat, karena penemuan kasus kita masih dalam proses peningkatan. Semakin banyak skrining, semakin jelas angka sebenarnya,” katanya.
Maria juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan TBC, seperti tidak merokok, menjaga kebersihan dan ventilasi rumah, serta waspada terhadap lingkungan berdebu dan tidak sehat. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....