Peringatan Hari Gizi Nasional Dorong Konsumsi Pangan Lokal
- 25 Jan 2026 20:18 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Gizi Nasional tahun 2026 kembali mengajak masyarakat untuk melihat lebih dekat apa yang tersaji di sekitar, yaitu pangan lokal sebagai sumber gizi seimbang. Dari Kementerian Kesehatan lewat laman resminya memberikan kampanye dengan mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” yang bukan sekadar slogan, tetapi refleksi atas kondisi kesehatan masyarakat yang masih dihadapkan pada persoalan anemia, gizi kurang, hingga pola konsumsi yang tidak beragam.
Dalam wawancaranya bersama RRI pada, Sabtu (24/1/2026) di Pro 2 RRI Kupang, Praktisi Kesehatan Masyarakat & International Development, Mei Tatengkeng, menegaskan pemenuhan gizi seimbang sejatinya dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Sebagai wilayah kepulauan, NTT memiliki potensi besar dari hasil laut, pangan umbi-umbian, hingga sumber protein lokal yang beragam.
“Indonesia, termasuk NTT, sebenarnya memiliki sumber pangan lokal bergizi yang terjangkau dan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujarnya saat diwawancarai melalui sambungan telepon.
Namun, ketergantungan pada pangan olahan dan produk dari luar daerah masih menjadi tantangan yang membuat masyarakat perlahan menjauh dari kekayaan pangan sendiri. Mei menilai kondisi ini tidak lepas dari faktor akses, harga, hingga minimnya edukasi yang membumi.
“Pangan lokal sering kali kalah populer karena kalah promosi, padahal secara nilai gizi dan keberlanjutan, justru jauh lebih unggul,” ujarnya.
Tantangan terbesar saat ini adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda, yang lebih memilih makanan instan atau ultra-processed food karena dianggap lebih praktis. Padahal, konsumsi makanan olahan yang tinggi pemanis buatan dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas hidup dan mengancam status gizi anak-anak di masa pertumbuhan.
Konsumsi jangka panjang makanan tinggi gula, garam, dan lemak tanpa keseimbangan gizi dinilai dapat berdampak pada kualitas hidup, mulai dari masa tumbuh kembang hingga kesehatan di usia dewasa. Edukasi yang diberikan kepada masyarakat kini harus bertransformasi dari sekadar pemberian informasi menjadi perubahan perilaku yang nyata di tingkat keluarga.
Menurut Mei, edukasi gizi tidak cukup berhenti pada penyampaian informasi, tetapi harus mendorong perubahan perilaku nyata. Inovasi dari kaum muda dalam mengolah pangan lokal menjadi produk yang menarik dan modern menjadi angin segar bagi dunia kesehatan dan ekonomi kreatif.
Dengan sentuhan kreativitas, bahan pangan tradisional yang dulunya dianggap "kuno" kini bisa tampil kompetitif tanpa menghilangkan nilai fungsional dan kandungan gizi aslinya di pasar yang lebih luas.
“Kunci utamanya adalah membiasakan, dimulai dari keluarga dan apa yang tersaji di atas piring setiap hari, sehingga pangan lokal benar-benar menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar tren,” tuturnya.
Sebagai penutup, kunci keberhasilan perbaikan gizi nasional terletak pada komitmen setiap keluarga untuk kembali ke meja makan dengan menu berbasis kearifan lokal. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik untuk lebih menghargai hasil bumi sendiri demi menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan mandiri secara pangan. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....