Dari Kupang ke Panggung Nasional, Prevy Seltriani Taek Bawa Suara Anak Muda NTT

  • 21 Sep 2026 08:49 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dari ruang kelas di SMK Negeri 4 Kupang, Nusa Tenggara Timur, hingga berdiri di hadapan tokoh-tokoh nasional di Jakarta, perjalanan Prevy Seltriani Taek dalam Lomba Pidato AHY Muda 2026 menjadi pengalaman yang jauh melampaui sebuah kompetisi. Siswi asal NTT itu berhasil menembus sembilan besar nasional dari 1.317 peserta yang mendaftar dalam ajang tersebut.

Menjelang babak final, Prevy bersama delapan finalis lainnya mendapat kesempatan bertemu Menteri Ekonomi Kreatif Tengku Riefky Harsya di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Menara Thamrin Nine, Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Pertemuan itu menjadi salah satu momen penting bagi Prevy.

Bukan hanya karena ia berada di lingkungan pemerintahan pusat, tetapi karena gagasan yang dibawanya dari NTT mendapat ruang untuk diperbincangkan di tingkat nasional. Dalam pidatonya yang mengangkat tema “Dari Potensi Menjadi Kesejahteraan”, Prevy berbicara tentang kekayaan NTT yang menurutnya belum sepenuhnya menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Ia menyoroti berbagai potensi daerah, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, rumput laut, garam, hingga tenun tradisional. Namun, kekayaan tersebut tidak cukup jika hanya dijual sebagai bahan mentah.

Menurut gagasan yang disampaikan Prevy, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana potensi tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk membangun masa depan di daerah sendiri. Perjalanan Prevy menuju sembilan besar nasional tidak berlangsung singkat.

Lomba Pidato AHY Muda 2026 merupakan bagian dari rangkaian Lomba Rakyat Partai Demokrat yang melibatkan pelajar dari berbagai wilayah Indonesia. Dari 1.317 peserta, seleksi dilakukan secara bertahap. Sebanyak 62 peserta dari 31 provinsi kemudian melaju ke tahapan berikutnya.

Setelah ditambah peserta melalui jalur penilaian unsur Fraksi Partai Demokrat DPR RI, jumlah peserta pada tahap lanjutan mencapai sekitar 70 orang. Dari proses tersebut, akhirnya terpilih sembilan finalis nasional.

Prevy menjadi salah satu di antaranya dan membawa nama NTT ke panggung nasional. Bagi Prevy, capaian tersebut bukan sekadar soal berhasil lolos dari satu tahapan ke tahapan berikutnya.

Kompetisi itu menjadi kesempatan untuk menyampaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat NTT—terutama mengenai pendidikan, keterampilan, lapangan pekerjaan, dan pengelolaan potensi daerah. Ia ingin menunjukkan bahwa anak muda di daerah bukan hanya memiliki potensi untuk menjadi pencari kerja, tetapi juga dapat menjadi pencipta peluang ekonomi.

Dalam pertemuan dengan para finalis, Menteri Ekonomi Kreatif Tengku Riefky Harsya menyampaikan bahwa kemampuan berbicara di depan publik memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar kebutuhan mengikuti perlombaan. Kemampuan menyusun gagasan, mengolah pesan, dan menyampaikannya dengan baik, menurutnya, merupakan keterampilan yang dapat menjadi modal di dunia kerja.

Ia mencontohkan berbagai profesi dalam industri kreatif yang membutuhkan kemampuan komunikasi, seperti penyiar radio, presenter, pengisi suara animasi, hingga voice over. “Proses dari 1.317 menjadi sembilan ini bukan tidak ada manfaatnya. Ini menjadi bagian mula,” ujar Tengku Riefky.

Pesan tersebut sejalan dengan gagasan yang dibawa Prevy. Sebagai siswi sekolah menengah kejuruan, ia menempatkan keterampilan sebagai bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja dan dunia usaha.

Bagi Prevy, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori. Pendidikan juga harus memberi keterampilan yang memungkinkan anak muda mengolah potensi di sekitarnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Tenun NTT, misalnya, tidak hanya dapat dipertahankan sebagai warisan budaya. Dengan desain yang inovatif, pengembangan produk fesyen, pemasaran digital, dan penguatan merek lokal, tenun dapat memasuki pasar yang lebih luas.

Hal serupa berlaku pada hasil pertanian, peternakan, perikanan, rumput laut, dan garam. Pengolahan, pengemasan, teknologi, branding, serta pemasaran digital dapat menjadi pintu untuk meningkatkan nilai jual berbagai produk tersebut.

Di balik pidatonya, Prevy membawa satu persoalan yang sederhana tetapi penting: bagaimana kekayaan NTT bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat NTT sendiri? Pertanyaan itu menjadi benang merah gagasannya.

Selama ini, berbagai daerah memiliki kekayaan sumber daya yang melimpah. Namun, tantangan muncul ketika sebagian besar komoditas hanya keluar dari daerah dalam bentuk bahan mentah.

Nilai tambah justru tercipta di tempat lain. Karena itu, Prevy menekankan pentingnya pendidikan vokasi, pengembangan keterampilan, kewirausahaan, inovasi, teknologi, dan industri pengolahan lokal.

Generasi muda, menurut gagasan yang ia sampaikan, harus diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari rantai penciptaan nilai tersebut. Mereka tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan usaha, mengembangkan produk, dan membuka lapangan kerja.

Kehadiran Prevy di tingkat nasional juga menjadi ruang bagi pelajar dari daerah untuk menyampaikan perspektif mereka secara langsung. Ia datang bukan hanya sebagai peserta lomba, tetapi membawa cerita tentang NTT—tentang potensi daerah, tantangan anak muda, dan harapan agar pembangunan ekonomi membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi berikutnya.

Pertemuan dengan Menteri Ekonomi Kreatif menjadi salah satu pengalaman yang memperluas perspektifnya. Dari Kupang, Prevy kini memiliki kesempatan melihat langsung bagaimana gagasan mengenai kreativitas, keterampilan, dan teknologi dibicarakan dalam konteks pembangunan ekonomi nasional.

Perjalanan itu mempertemukan dua hal yang selama ini sering dianggap terpisah: potensi daerah dan peluang ekonomi kreatif. Padahal, keduanya dapat saling menguatkan.

Ketika produk lokal dikembangkan dengan kreativitas, dipasarkan menggunakan teknologi, dan dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki keterampilan, potensi daerah dapat berubah menjadi peluang ekonomi. Bagi Prevy, apa pun hasil kompetisi tersebut, perjalanan dari SMK Negeri 4 Kupang menuju sembilan besar nasional telah membuka pengalaman baru.

Ia belajar menyusun gagasan, berbicara di depan publik, bertemu peserta dari berbagai daerah, serta berdiskusi mengenai masa depan generasi muda dan ekonomi kreatif. Lebih dari itu, Prevy telah membawa satu pesan dari NTT ke panggung nasional.

Bahwa kekayaan daerah seharusnya tidak berhenti sebagai potensi. Dengan pendidikan, keterampilan, kreativitas, teknologi, dan keberanian anak muda, potensi itu dapat diubah menjadi produk, pekerjaan, pendapatan, dan pada akhirnya kesejahteraan.

Dari Kupang ke Jakarta, Prevy mungkin hanya membawa sebuah pidato. Namun di balik pidato itu ada pertanyaan yang jauh lebih besar:

Bisakah kekayaan NTT diolah oleh anak-anak mudanya sendiri menjadi masa depan yang lebih sejahtera? Pertanyaan itulah yang kini ikut menunggu jawaban bersama perjalanan Prevy di panggung nasional. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....