Hari Anak Nasional 2026, FoR PKBI NTT Waspadai Doomscrolling, Anak Perlu Ruang Aman

  • 23 Jul 2026 06:51 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada Kamis, 23 Juli 2026, juga menyoroti isu kesehatan mental anak dan remaja di era digital saat ini. Dengan mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", masyarakat diajak untuk memberikan kasih sayang, menciptakan lingkungan yang aman dari kekerasan, serta menjamin hak anak demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Namun, pesatnya perkembangan dunia digital kerap kali menjadi tantangan tersendiri bagi keamanan psikologis generasi muda. Fenomena doomscrolling yakni kebiasaan berselancar tanpa henti di media sosial untuk mengonsumsi berita-berita negatif, kini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga telah merambah anak-anak dan remaja. Algoritma media sosial kerap membaca interaksi pengguna pada konten buruk, sehingga secara terus-menerus memunculkan informasi serupa yang memicu kelelahan fisik maupun mental.

Kondisi ini membuat anak-anak rentan terpapar konten toksik tanpa disadari. Dampak buruk doom scrolling terlihat nyata dari penurunan konsentrasi belajar serta munculnya rasa cemas dan putus asa pada remaja. Kepada RRI dalam wawancara pada Selasa, 21 Juli 2026, anggota Forum Remaja (FoR) PKBI NTT, Irna Tanesib, menjelaskan paparan berita negatif secara masif membuat anak muda merasa dunia luar penuh dengan hal-hal jahat.

"Akhirnya ada kecemasan, putus asa, terus juga sulit untuk konsentrasi dan waktu dengan lingkungan sekitar akhirnya lebih sedikit karena lebih banyak hidup di dunia maya," ujar Irna.

Selain mengganggu kesehatan mental, kebiasaan ini juga memicu fenomena penarikan diri dari interaksi sosial secara langsung. Sebagian remaja merasa lebih nyaman berekspresi di dunia digital karena merasa kurang diterima di lingkungan nyata atau menghindari penilaian orang lain.

Padahal, interaksi dan koneksi nyata di kehidupan sehari-hari sejatinya jauh lebih menyenangkan dan mendukung tumbuh kembang emosional anak secara sehat. Ia mengungkapkan peran orang tua dan lingkungan keluarga menjadi benteng utama dalam melindungi anak dari bahaya ruang digital ini.

Anggota Forum Remaja PKBI NTT lainnya, Desty Paulus, menegaskan pentingnya pembatasan penggunaan gawai serta pengawasan yang konsisten dari orang tua. "Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan dengan cara membatasi dan juga mengawasi, karena kalau kekurangan kasih sayang dari orang tua saja bisa berakibat buruk," ujar Desti.

Untuk mengatasi adiksi ini, remaja dianjurkan menerapkan strategi pembatasan diri seperti mengatur batas waktu penggunaan aplikasi, mengalihkan perhatian ke hobi, serta melakukan filterisasi akun. Mengikuti akun-akun edukatif, olahraga, dan informasi positif menjadi langkah krusial untuk memperbaiki asupan konten harian. Di sisi lain, ruang aman melalui kegiatan komunitas yang interaktif di dunia nyata perlu terus dibuka lebar bagi anak-anak.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum penting bagi pemerintah, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak. Menghargai privasi anak serta membatasi eksploitasi konten di media sosial adalah bentuk perlindungan nyata yang dibutuhkan saat ini.

Dengan pengawasan yang tepat, anak-anak Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa harus mengorbankan masa kecil dan kesehatan mental mereka. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....