Peringatan HAN 2026, Forum Anak NTT Ajak Semua Pihak Wujudkan Ruang Aman

  • 23 Jul 2026 06:54 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Anak Nasional yang dirayakan setiap 23 Juli 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali komitmen bersama dalam merayakan serta memperjuangkan hak-hak anak di Nusa Tenggara Timur. Kehadiran hari peringatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan menjadi pengingat utama akan peran strategis generasi muda bagi masa depan bangsa.

Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak di wilayah NTT yang belum merasakan pemenuhan hak dasar mereka secara utuh. Eksploitasi ekonomi seperti anak jalanan yang berjualan di lampu merah hingga ancaman kekerasan fisik maupun digital masih menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan.

Dalam wawancara bersama RRI pada Rabu, 22 Juli 2026, pengurus Forum Anak NTT, Benedicta Indah Ngelok mengungkapkan Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus mendapat perhatian serius dari semua pihak. "Hari Anak ini dirayakan sebagai pengingat bahwa anak-anak juga sangat penting. Mereka adalah generasi yang dipersiapkan untuk masa depan bangsa," ujarnya.

Pihaknya terus berupaya mengawal berbagai persoalan tersebut agar hak-hak anak dapat terpenuhi secara merata. Forum Anak NTT yang berada di bawah naungan Dinas DP3A P2KB Provinsi bertindak aktif sebagai wadah aspirasi dan jembatan komunikasi antara anak-anak dengan pemerintah.

Melalui berbagai program seperti sinkronisasi suara anak dan lokakarya interaktif, mereka berusaha memastikan agar ide serta pandangan anak-anak dapat didengar oleh para pemangku kebijakan. Benedicta menjelaskan, sejumlah kegiatan seperti sinkronisasi suara anak dan lokakarya bersama pemerintah menjadi ruang bagi anak untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

"Forum anak menjadi wadah aspirasi, sarana partisipasi, sekaligus jembatan komunikasi antara anak dengan pemerintah," katanya.

Meski demikian, Forum Anak NTT masih melihat banyak persoalan yang dihadapi anak-anak di daerah, terutama terkait pemenuhan hak anak yang belum optimal. Menurut Indah, eksploitasi anak, kekerasan, hingga minimnya kesempatan belajar masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

"Masih banyak anak-anak di NTT yang belum terpenuhi haknya secara utuh. Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus dilindungi," ucapnya.

Forum Anak NTT juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Langkah sederhana seperti memperlakukan anak secara setara, memberikan ruang berekspresi, dan mendukung aktivitas positif dinilai mampu membangun rasa aman bagi anak dalam kehidupan sehari-hari.

"Perlakukan anak secara sama atau setara, ciptakan ruang aman, dan berikan kebebasan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang positif," kata calon Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi ini.

Di era digital, tantangan yang dihadapi anak semakin kompleks karena derasnya arus informasi dan konten di media sosial. Karena itu, Forum Anak NTT mendorong kehadiran ruang aman, teman sebaya, serta lingkungan yang menghargai pendapat anak tanpa intimidasi agar mereka berani menyampaikan aspirasi dan terhindar dari berbagai risiko di dunia digital.

"Kami melatih teman-teman untuk mengambil peran sebagai pelopor dan juga pelapor, sehingga mereka berani menyuarakan persoalan yang dialami anak," ujarnya.

Melalui semangat Hari Anak Nasional, Forum Anak NTT berharap seluruh pihak mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga pemerintah dapat memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan lingkungan yang ramah anak. Dengan perlindungan, kasih sayang, dan kesempatan berpartisipasi yang lebih luas, anak-anak NTT diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat, berdaya, dan mampu membangun masa depan daerah maupun bangsa. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....