Logosi Institute Buka Kelas Robotik Gratis Pertama di NTT
- 07 Sep 2026 23:21 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Rasa penasaran terhadap dunia robotik membawa puluhan anak hingga orang dewasa berkumpul di Lantai 3 Aula Filosi, Kupang, pada 4–5 September 2026. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat robot, tetapi untuk belajar merakit dan memahami cara kerja teknologi tersebut secara langsung.
Suasana antusias terlihat dalam Kelas Robotik Gratis Pertama di NTT yang digelar Logosi Institute, anak perusahaan PT Filosi Exider Inovasi. Sekitar 50 peserta mengikuti batch pertama kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut.
Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari kalangan pelajar. Anak-anak SD, siswa SMP dan SMA, mahasiswa hingga masyarakat umum ikut belajar bersama dalam kelas yang dirancang untuk memperkenalkan teknologi robotik secara menyenangkan dan praktis.
Kegiatan berlangsung selama dua hari dalam dua sesi, yakni pukul 13.00–15.00 WITA dan 16.00–18.00 WITA. Pada hari pertama, peserta diajak mengenal dunia robotik dari dasar.
Materi mencakup pengertian robot, ciri-ciri robot, tiga alur kerja robot, hingga berbagai contoh penerapan robot yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Keseruan semakin terasa pada hari kedua.
Peserta tidak lagi hanya mendengarkan materi, tetapi langsung berhadapan dengan komponen elektronik dan merakit robot palang pintu otomatis. Dengan menggunakan sensor ultrasonik, Arduino, dan servo, peserta didampingi trainer untuk merakit sistem tersebut hingga memahami bagaimana robot dapat bekerja berdasarkan input dari sensor.
Antusiasme peserta bahkan sudah terlihat sejak sebelum kelas dimulai. Co-Founder sekaligus Manager Logosi Institute, Virginia Rosa Da Silva, mengatakan tingginya minat masyarakat menjadi alasan program tersebut akan dilanjutkan.
“Kelas Robotik Gratis Pertama di NTT yang diselenggarakan oleh Logosi Institute ini diikuti oleh berbagai kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Ada ratusan pendaftar, bahkan ada anak-anak yang datang dari Soe. Namun karena kuotanya terbatas, kami memutuskan untuk melanjutkannya ke batch berikutnya,” ujar Virginia.
Menurut Virginia, respons peserta selama dua hari menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda NTT, memiliki ketertarikan besar terhadap teknologi. “Dalam dua hari ini, peserta terlihat sangat bersemangat, baik saat mengikuti praktik maupun aktif bertanya. Ini adalah tanda bahwa masa depan NTT sangat cerah, di mana generasi mudanya siap mengambil bagian dari masa depan teknologi untuk memajukan NTT dan Indonesia di tengah persaingan global,” katanya.
Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus berkembang menjadi gerakan yang melahirkan berbagai inovasi teknologi dari NTT. “Semoga semangat ini terus bertumbuh dan Logosi menjadi wadah banyak inovasi anak muda NTT, khususnya di bidang teknologi,” ujarnya.
Tingginya semangat peserta juga menjadi kesan tersendiri bagi Admin Logosi Institute, Trisantari Konga Wandal. Ia mengaku bahagia melihat anak-anak mengikuti kegiatan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Bahkan, beberapa peserta tetap datang meski sebelumnya telah menjalani aktivitas lain. “Kami sangat senang melihat antusiasme anak-anak yang begitu tinggi dalam mengikuti kelas robotik. Banyak peserta yang datang dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu untuk belajar serta mencoba membuat robot secara langsung,” ujar Trisantari.
Menurutnya, salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika ada peserta yang baru pulang sekolah dan belum sempat beristirahat, tetapi tetap memilih datang mengikuti kelas. “Hal yang paling membanggakan, bahkan ada anak yang baru saja pulang sekolah dan belum sempat beristirahat, tetapi langsung datang untuk mengikuti kelas robotik. Semangat seperti inilah yang menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, dan bermanfaat bagi anak-anak,” tuturnya.
Salah satu peserta, Jeje dari SD Inpres Bakunase, juga bukan wajah baru di lingkungan Logosi Institute. Sebelumnya, Jeje pernah mengikuti lomba merakit robot yang diselenggarakan Logosi pada Mei 2026.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik untuk kembali belajar robotik. “Saya pada bulan Mei kemarin mendapatkan pengalaman pertama mengikuti lomba merakit robot yang diadakan oleh Logosi Institute. Saya senang sekali dua hari ini ikut dalam kelas robotik gratis yang diadakan oleh Logosi lagi, setelah workshop dan lomba kemarin. Saya mendapat pengalaman dan teman-teman baru,” ungkap Jeje.
Ia berharap kegiatan serupa semakin sering digelar sehingga semakin banyak anak di NTT yang memiliki kesempatan mengenal teknologi sejak dini. “Semoga makin banyak kelas gratis dari Logosi dan semoga Logosi makin berkembang,” katanya, menambahkan.
Bagi Trainer Kelas Robotik, Jefrianus Tanggur, kegiatan tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar mengajarkan peserta cara merakit sebuah robot. Menurutnya, keterbatasan akses terhadap pendidikan teknologi tingkat lanjut masih menjadi tantangan di daerah.

Karena itu, kelas gratis tersebut diharapkan menjadi salah satu cara membuka akses yang lebih luas. “Sebagai trainer, saya sangat kagum dengan semangat para peserta lintas usia ini. Akses terhadap pendidikan teknologi tingkat lanjut sering kali masih menjadi kendala di daerah kita. Membuka kelas robotik gratis pertama di NTT adalah wujud nyata komitmen kami di Logosi Institute untuk meruntuhkan batasan tersebut,” ujar Jefrianus.
Ia berharap kelas tersebut berkembang menjadi ruang inklusif bagi talenta lokal untuk berkreasi dan menghasilkan solusi atas persoalan yang ada di lingkungan sekitar. “Harapan saya, inisiatif ini dapat menjadi wadah yang inklusif bagi talenta-talenta lokal untuk berkreasi, memecahkan masalah nyata di masyarakat sekitar, dan membuktikan bahwa anak-anak NTT sudah sepenuhnya siap memimpin di era digital,” katanya.
Antusiasme tinggi juga dirasakan Trainer Robotik, Kisan Emiliano Rape Tupen. Selama mendampingi peserta, ia melihat anak-anak begitu aktif mengikuti setiap tahapan praktik.
“Selama dua hari menjadi trainer di kelas robotik, saya melihat antusiasme yang sangat besar dari anak-anak. Mereka sangat semangat dan aktif selama kelas berlangsung. Anak-anak sangat tertarik dengan proyek yang didemokan maupun proyek yang mereka kerjakan,” ujar Kisan.

Menurutnya, peserta yang berasal dari berbagai kelompok usia menunjukkan bahwa robotika bukan lagi bidang yang hanya menarik bagi kalangan tertentu. “Teknologi robotik adalah ilmu yang diminati oleh berbagai kalangan dan memang merupakan ilmu yang penting saat ini, karena perkembangan teknologi sekarang mengarah pada robotik dan juga AI,” katanya.
Program tersebut juga mendapat apresiasi dari orang tua peserta. Petrus Pedro Baga, S.T., M.T., salah satu orang tua peserta, menilai kelas robotik gratis memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal teknologi sejak usia dini.
“Terima kasih Logosi sudah menyelenggarakan kursus robotik gratis. Kursus ini memperkenalkan dunia robotik sejak dini, khususnya bagi anak usia 7 tahun. Anak sangat senang dan bersemangat mengikuti kursus. Semoga program ini terus berlanjut dan dapat mendorong perkembangan robotik di NTT,” ungkap Petrus.
Tingginya jumlah pendaftar dan antusiasme peserta selama pelaksanaan menjadi sinyal kuat bahwa ketertarikan terhadap teknologi di NTT terus tumbuh. Logosi Institute pun memastikan Kelas Robotik Gratis akan dilanjutkan ke batch berikutnya.
Keputusan tersebut menjadi respons atas tingginya minat masyarakat yang belum seluruhnya dapat terakomodasi pada batch pertama. Lebih dari sekadar mengajarkan cara membuat robot, program ini menjadi langkah untuk memperluas akses pendidikan teknologi bagi masyarakat NTT.
Dari tangan anak-anak yang baru pulang sekolah hingga mahasiswa dan masyarakat umum, kelas tersebut memperlihatkan satu hal yakni talenta teknologi NTT memiliki rasa ingin tahu yang besar dan kini semakin banyak ruang untuk mengembangkannya. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....