Hari Keamanan Pangan Sedunia 2026, WHO Soroti Risiko Makanan Tidak Aman

  • 07 Jun 2026 18:10 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengungkapkan bahwa makanan yang tidak aman masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Berdasarkan catatan WHO dalam memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia 2026, 7 Juni 2026, makanan yang terkontaminasi menyebabkan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Anak-anak berusia di bawah lima tahun menjadi kelompok yang paling rentan. Meski hanya mencakup sekitar 9 persen populasi dunia, kelompok usia ini mengalami hampir sepertiga dari seluruh kasus penyakit yang ditularkan melalui makanan, terutama diare yang berpotensi mematikan.

WHO menyebutkan risiko anak-anak kecil terkena penyakit akibat makanan yang tidak aman hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang lebih besar maupun orang dewasa. Selain infeksi, paparan zat kimia berbahaya seperti metilmerkuri dan timbal dalam makanan juga dapat mengganggu perkembangan otak serta menyebabkan gangguan neurologis dan perkembangan jangka panjang.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan isu yang menyentuh kehidupan setiap orang setiap hari. “Keamanan pangan bukanlah isu abstrak. Hal ini menyentuh setiap makanan, setiap keluarga, setiap hari. Makanan yang tidak aman selalu menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat, namun hingga kini kita belum memiliki gambaran menyeluruh mengenai dampaknya terhadap manusia dan ekonomi,” ujarnya.

Laporan terbaru WHO menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit bawaan makanan disebabkan oleh bahaya biologis seperti bakteri, virus, dan parasit. Pada tahun 2021, faktor-faktor tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 860 juta kasus penyakit.

Sementara itu, bahaya kimia justru menjadi penyumbang terbesar kematian akibat makanan terkontaminasi. WHO mencatat 73 persen kematian terkait makanan yang tidak aman berasal dari paparan bahan kimia.

Arsenik anorganik menyumbang sekitar 42 persen kematian, sedangkan timbal mencapai 31 persen. Paparan kedua zat tersebut meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker.

WHO juga mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa paparan logam berat melalui makanan berkontribusi terhadap lebih dari satu juta kematian dalam satu tahun. Selain dampak kesehatan, makanan yang tidak aman juga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Pada 2021, penyakit bawaan makanan menyebabkan kerugian produktivitas global sekitar 310 miliar dolar Amerika Serikat akibat hilangnya waktu kerja karena sakit. Setelah disesuaikan dengan biaya hidup di berbagai negara, angka kerugian tersebut meningkat menjadi sekitar 647 miliar dolar AS.

Analisis terbaru WHO mencakup 42 jenis bahaya yang ditularkan melalui makanan, termasuk bakteri, virus, parasit, dan bahan kimia di 194 negara selama periode 2000 hingga 2021. Kajian ini juga memasukkan sejumlah ancaman baru seperti logam berat, rotavirus, dan parasit penyebab penyakit Chagas.

WHO mengingatkan bahwa perubahan pola makan, tekanan lingkungan, globalisasi, perubahan iklim, serta meningkatnya resistensi antimikroba turut memperbesar risiko kontaminasi pangan. Karena itu, organisasi tersebut mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan, meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih, memperketat pengendalian industri, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.

Adapun peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia tahun 2026 mengambil tema “From Burden to Solutions – Safe Food Everywhere” atau “Dari Beban Menuju Solusi – Makanan Aman di Mana Pun”. Kampanye ini bertujuan membantu negara dan mitra untuk mengubah data menjadi tindakan yang tepat sasaran untuk mengurangi beban makanan yang tidak aman. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....