Media Sosial Bentuk Pola Informasi Masyarakat Modern
- 07 Mei 2026 11:03 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Media sosial dinilai telah mengubah pola masyarakat dalam menerima dan memahami informasi di era digital saat ini. Arus informasi yang bergerak sangat cepat membuat masyarakat kini lebih banyak mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana Kupang sekaligus Direktur Ranaka Institute, Ferdinandus Jehalut, dalam Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang pada Kamis, 7 Mei 2026.
Menurut Ferdinandus, perkembangan media sosial telah mengubah model komunikasi masyarakat. Jika sebelumnya komunikasi lebih banyak berlangsung dalam pola one to one atau one to many, kini berubah menjadi many to many di ruang digital.
“Dulu informasi lebih banyak bergerak dari satu orang ke satu orang, atau dari media kepada banyak orang. Sekarang semua orang bisa menjadi penyampai informasi sekaligus penerima informasi dalam waktu yang bersamaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan tersebut membuat publik tidak lagi hanya menjadi audiens atau pendengar pasif, tetapi juga menjadi produsen sekaligus konsumen informasi di media sosial.
“Publik sekarang bukan hanya menerima informasi, tetapi juga memproduksi, membagikan, bahkan membentuk arus percakapan sendiri di media sosial,” kata Ferdinandus.
Menurutnya, kondisi itu membuat arus komunikasi menjadi jauh lebih terbuka, cepat, dan dinamis. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru dalam proses penyaringan informasi.
Ferdinandus mengatakan, jika sebelumnya proses seleksi informasi banyak dilakukan oleh redaksi media atau institusi tertentu, kini proses tersebut semakin dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
“Algoritma menentukan informasi apa yang sering muncul di linimasa kita. Akibatnya, masyarakat lebih sering melihat informasi yang sesuai dengan minat, emosi, atau kebiasaan mereka sendiri,” jelasnya.
Ia menilai kondisi tersebut dapat membuat masyarakat lebih mudah terpapar informasi yang berulang, viral, dan emosional, meskipun belum tentu terverifikasi dengan baik.
Karena itu, Ferdinandus menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memeriksa, memahami konteks, dan menyaring informasi secara kritis sebelum membagikannya kembali.
Melalui Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang, ia mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan bermedia sosial yang lebih sehat dengan membiasakan diri berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, dan tidak mudah terpancing emosi oleh konten yang beredar di media sosial. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....