PT Filosi Gelar Kompetisi Robotik Pertama di NTT
- 16 Apr 2026 13:55 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Dunia pendidikan dan teknologi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki babak baru dengan digelarnya Robotic Competition and Expo 2026 di Kota Kupang. Kegiatan ini menjadi ajang robotika pertama yang melibatkan peserta dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, sekaligus menjadi upaya serius membangun ekosistem teknologi sejak usia dini.
Direktur PT Filosi Exider Inovasi sekaligus Founder Logosi Institute, Erwin Alexander, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kebutuhan mendesak akan sumber daya manusia (SDM) lokal yang siap menghadapi perkembangan industri berbasis teknologi. Ia mengungkapkan, selama ini kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi masih banyak bergantung pada luar daerah.
Karena itu, menurutnya, NTT harus mulai menyiapkan generasi muda sejak dini melalui pendidikan robotika, coding, mekanika, dan Internet of Things (IoT). “Kalau kita bicara industri, SDM siap kerja itu harus sudah tersedia. Karena itu pembelajaran robotik harus diperkenalkan sejak SD, SMP, dan SMA,” ujarnya saat ditemui Reporter RRI pada kegiatan Robotics Workshop 2026 di Aula BPVP Kemnaker Kota Kupang, Kamis, 16 April 2026.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan lomba, tetapi juga workshop robotika yang melibatkan narasumber dari bidang teknologi dan IoT. Workshop tersebut menjadi tahap persiapan bagi peserta sebelum memasuki kompetisi utama yang dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Mei 2026 di Kota Kupang.
Pda kesempatan yang sama Ketua panitia, D’Timor atau akbrab disapa Imo, menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, hingga lembaga pendidikan tinggi. Sosialisasi telah dilakukan ke sekitar 40 sekolah untuk menjaring peserta dari berbagai jenjang pendidikan.
“Kami ingin membangun ekosistem digital di Kupang. Robotika harus dikenal sejak dini agar anak-anak siap menghadapi perkembangan AI dan teknologi,” katanya menjelaskan.
Antusiasme peserta pun terus meningkat. Meski pada awalnya minat masih rendah akibat minimnya informasi, jumlah peserta kini telah mencapai puluhan tim dari berbagai daerah, termasuk Kabupaten Kupang, Sumba, hingga Alor.
Menariknya, penyelenggara juga menyiapkan perangkat lomba secara penuh agar peserta dapat fokus pada proses pembelajaran dan inovasi. Tema yang diangkat pun disesuaikan dengan kebutuhan lokal, seperti pengelolaan sampah, kendaraan otomatis, hingga penerapan IoT di bidang pertanian dan peternakan.
Salah satu peserta, Enggar Natania Londingkene dari SMAN 1 Kupang, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari workshop tersebut. “Kami belajar tentang IoT, sensor analog dan digital. Ini sangat membuka wawasan kami di bidang teknologi,” ujarnya.
Meski demikian, peserta juga menghadapi tantangan, terutama dalam hal biaya dan keterbatasan pengembangan alat. Namun semangat kolaborasi membuat mereka tetap optimistis untuk berkompetisi secara maksimal.
Ajang ini diharapkan tidak berhenti pada tahun 2026 saja, tetapi dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sebagai wadah berkelanjutan bagi generasi muda NTT untuk berkembang di bidang teknologi dan robotika. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....