Mafindo Tekankan AI Hanya sebagai Alat Bantu dalam Dunia Pendidikan
- 09 Apr 2026 13:42 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Koordinator Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Wilayah Nusa Tenggara Timur, Maria V. D. Pabha Swan, menegaskan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran manusia. Dalam keterangannya saat diwawancarai reporter RRI pada, Kamis 9 April 2026, ia menyampaikan bahwa perkembangan AI saat ini tidak dapat dihindari.
Namun, pendidik dan mahasiswa perlu memahami posisi AI secara proporsional. “AI itu adalah alat bantu, bukan yang utama. Kita tetap harus menjadi pengendali,” ujarnya.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan secara positif, misalnya dalam membantu menemukan ide saat riset mengalami kebuntuan. Meski demikian, hasil dari AI tetap harus dikaji ulang oleh pengguna.
Hal ini penting karena AI berbasis data dan tidak selalu menghasilkan informasi yang benar. Sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi digital, Mafindo NTT juga mendorong agar literasi AI masuk dalam kurikulum pendidikan.
Di lingkungan akademik, termasuk pada program studi Ilmu Komunikasi, kajian tentang literasi AI mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pembelajaran. Selain itu, ia menekankan pentingnya kesiapan pendidik dalam memahami teknologi ini.
Guru dan dosen dituntut untuk “melek AI” agar mampu mendeteksi penggunaan AI dalam tugas mahasiswa sekaligus membimbing penggunaannya secara tepat. Dalam konteks peran manusia di era AI, Maria V. D. Pabha Swan, atau akrab disapa Rossi menilai bahwa aspek humanistik justru semakin penting.
Manusia harus tetap menjadi pengendali utama, bukan sebaliknya. “Kita tidak boleh percaya 100 persen pada AI. Kita harus tetap kritis,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Mafindo NTT menjalankan dua program utama, yakni “AI Goes to School” dan “AI Ready ASEAN”. Program tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada guru, siswa, dan mahasiswa mengenai pemanfaatan AI secara bijak.
Melalui program tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada berbagai tools AI, tetapi juga diberikan pemahaman terkait etika penggunaan, termasuk pentingnya menjaga privasi dan keamanan data pribadi. Pengguna diingatkan untuk tidak sembarangan memberikan data sensitif kepada sistem AI.
Rossi berharap masyarakat dapat memanfaatkan AI sebagai asisten yang membantu pekerjaan, tanpa kehilangan kontrol sebagai manusia. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....