Hari tanpa Sampah Internasional Soroti Krisis Limbah Makanan Global

  • 30 Mar 2026 11:57 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-Hari Tanpa Sampah Internasional diperingati setiap tanggal 30 Maret. Inisiatif global ini difasilitasi bersama oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Program Permukiman Manusia PBB, sebagai upaya mendorong penguatan pengelolaan sampah serta perubahan pola konsumsi dan produksi yang lebih berkelanjutan.

Menurut UNEP, setiap tahunnya, dunia menghasilkan antara 2,1 hingga 2,3 miliar ton sampah padat perkotaan. Tanpa intervensi serius, angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi global hingga ratusan miliar dolar setiap tahun. Lebih jauh, polusi sampah memperparah tiga krisis planet sekaligus, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta krisis polusi dan limbah.

Adapun tema tahun ini menyoroti limbah makanan sebagai salah satu penyumbang terbesar kerusakan lingkungan yang sebenarnya dapat dicegah. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2022 saja, sekitar 1 miliar ton makanan, hampir seperlima dari total makanan yang tersedia bagi konsumen, terbuang sia-sia.

Pemborosan ini berdampak serius, dimana limbah makanan menyumbang hingga 10 persen emisi gas rumah kaca global, bahkan hampir lima kali lebih besar dibandingkan emisi dari sektor penerbangan. Selain itu, sekitar 14 persen emisi metana global juga berasal dari limbah makanan.

Ironisnya, di tengah pemborosan tersebut, jutaan orang di dunia masih menghadapi kelaparan. Setiap hari, rata-rata 1,3 porsi makanan per orang terbuang, menjadikannya bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga tragedi kemanusiaan.

UNEP dan UN-Habitat menekankan bahwa solusi terhadap krisis ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, hingga masyarakat. Pendekatan “nol limbah” dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi dampak limbah melalui pencegahan, efisiensi sumber daya, dan perubahan sistemik.

Selain kebijakan makro, perubahan perilaku individu juga menjadi kunci. Sekitar 60 persen limbah makanan berasal dari rumah tangga. Oleh karena itu, langkah sederhana seperti merencanakan belanja, memasak sesuai porsi, menyimpan makanan dengan benar, hingga memanfaatkan sisa makanan dapat memberikan dampak signifikan.

Masyarakat juga didorong untuk lebih bijak dalam memahami label makanan, menghargai produk yang tidak sempurna secara visual, serta berbagi makanan berlebih kepada sesama. Untuk limbah yang tidak dapat dihindari, pengomposan menjadi solusi ramah lingkungan yang mampu mengurangi emisi metana sekaligus memperbaiki kualitas tanah.

Hari Tanpa Sampah Internasional 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global bahwa krisis limbah, khususnya limbah makanan, membutuhkan aksi nyata dari semua pihak. Dengan langkah kolektif dan konsisten, dunia memiliki peluang untuk beralih menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan masa depan tanpa sampah. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....