Menteri Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati di Kampus
- 08 Sep 2026 07:03 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Ia mendorong Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) untuk menjadi ruang terbuka bagi berbagai pandangan, termasuk pemikiran yang kritis terhadap pemerintah dan kebijakan negara.
Hal tersebut disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 4 September 2026.
“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Nusron.
Menurutnya, perbedaan pemikiran bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan. Pertukaran gagasan, kata dia, memungkinkan seseorang memperoleh perspektif baru yang sebelumnya tidak dimilikinya.
Nusron menggambarkan pentingnya pertukaran pemikiran tersebut melalui analogi “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw. “Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” katanya.
Namun, menurut Nusron, situasinya berbeda ketika yang dipertukarkan adalah pemikiran. “Kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap tradisi kuliah umum dan diskusi terbuka terus dikembangkan di lingkungan Politeknik Agraria STPN. Menurutnya, ruang pertukaran gagasan akan membantu mahasiswa memperkaya perspektif dan cara pandang terhadap berbagai persoalan.
“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Nusron.
Kuliah umum tersebut turut menghadirkan Rocky Gerung sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Rocky menekankan bahwa perdebatan merupakan bagian penting dalam proses pertukaran dan pengujian pemikiran.
“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky.
Di hadapan lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN, Rocky juga menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran, termasuk mengenai tanah, negara, dan rakyat. “Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rocky juga memaparkan tiga cara pandang mengenai pemaknaan tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur.
Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.
Kuliah umum ini diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN. Melalui forum tersebut, tradisi dialog dan pertukaran gagasan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan akademik, tetapi juga membentuk cara berpikir kritis para calon insan pertanahan dalam memahami persoalan tanah, negara, dan kepentingan masyarakat. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....