Pelemahan Rupiah Berdampak Langsung pada UMKM dan Daya Beli Masyarakat

  • 15 Jun 2026 15:06 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Emilia J. Nomleni, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kelompok ekonomi menengah ke bawah. Menurutnya, meski sebagian kebutuhan lokal masih dapat dipenuhi dari dalam daerah, ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah membuat kenaikan harga sulit dihindari ketika rupiah melemah.

“Ketika rupiah melemah, harga pasokan dari luar tentu naik. Dampaknya dirasakan oleh pelaku usaha yang harus menanggung biaya produksi lebih tinggi. Pada akhirnya harga produk ikut naik dan daya beli masyarakat menurun,” ujarnya saat ditemui reporter RRI di Saboak Taman Nostalgia, Minggu, 14 Juni 2026.

Ketua DPRD NTT, Emilia Nomleni, saat ditemui reporter RRI di Saboak Taman Nostalgia, Minggu, 14 Juni 2026. (Foto: RRI/Delvin)

Emi Nomleni menjelaskan, kondisi tersebut menciptakan dilema bagi pelaku UMKM. Di satu sisi mereka harus menaikkan harga agar usaha tetap berjalan, namun di sisi lain masyarakat semakin kesulitan membeli karena kemampuan ekonomi yang terbatas.

Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu segera menghadirkan solusi untuk meringankan beban masyarakat. Menurutnya, meskipun stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan pemerintah pusat, pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan barang kebutuhan pokok.

“Kalau dibilang tidak berdampak, itu tidak mungkin. Pelemahan rupiah pasti memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk biaya transportasi ketika harga BBM ikut naik,” katanya.

Emi Nomleni menyoroti bahwa UMKM merupakan sektor yang paling merasakan tekanan akibat pelemahan rupiah. Kenaikan harga bahan baku dan menurunnya daya beli masyarakat membuat banyak pelaku usaha menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan usahanya.

“UMKM punya semangat dan kemampuan untuk berusaha, tetapi kondisi ekonomi seperti sekarang membuat mereka menghadapi banyak kesulitan. Harga harus naik, sementara masyarakat juga mengeluhkan kenaikan harga tersebut,” katanya menjelaskan.

Di tengah tekanan ekonomi global, Emi Nomleni mengajak masyarakat dan pemerintah untuk kembali memaksimalkan potensi daerah. Ia menilai NTT memiliki kekuatan besar di sektor pangan lokal, pertanian, perikanan, dan sumber daya alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia mencontohkan bagaimana masyarakat NTT mampu bertahan pada masa pandemi COVID-19 dengan mengandalkan sumber daya yang dimiliki sendiri. Menurutnya, semangat kemandirian tersebut perlu kembali dibangun untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

“NTT memiliki kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Kita punya jagung, kacang-kacangan, hasil laut, dan banyak potensi lainnya. Kearifan lokal inilah yang harus dibangkitkan kembali sebagai kekuatan ekonomi masyarakat,” ujar Emi.

Lebih lanjut, Emi Nomleni menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus membuka akses dan memberikan dukungan, sementara masyarakat didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini menjadi pengingat bahwa penguatan ekonomi lokal dan pemberdayaan UMKM merupakan langkah penting untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global. (DW)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....