OJK NTT Catat Aset, Tabungan, dan Kredit Perbankan Meningkat
- 15 Jun 2026 21:06 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Pelemahan nilai tukar rupiah yang biasanya diikuti kenaikan biaya hidup tidak serta-merta berdampak negatif terhadap kondisi sektor perbankan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT mencatat kinerja perbankan daerah tetap tumbuh positif, baik dari sisi aset, penghimpunan dana masyarakat, maupun penyaluran kredit.
Kepala Bagian Pengawasan Jasa Keuangan Kantor OJK Provinsi NTT, Bambang Purwogandi D.A.L, menjelaskan bahwa OJK terus memantau dampak perubahan nilai tukar rupiah terhadap sektor jasa keuangan, khususnya perbankan. "Kalau dilihat dari berbagai indikator perbankan di NTT, kondisinya masih relatif aman dan cukup baik," ujarnya.
Data OJK menunjukkan aset perbankan di NTT masih mencatat pertumbuhan sebesar 13,57 persen secara tahunan (year on year). Capaian tersebut menunjukkan sektor perbankan daerah tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.
Tidak hanya itu, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan juga mengalami peningkatan sebesar 13,57 persen. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mengalami penurunan sekitar 0,97 persen.
Menariknya, komposisi DPK di NTT masih didominasi oleh tabungan masyarakat, disusul deposito dan giro. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan tetap kuat.
"Dominasi tabungan menunjukkan interaksi masyarakat dengan industri jasa keuangan, khususnya perbankan, berjalan cukup baik," kata Bambang.
Di sisi penyaluran kredit, tren pertumbuhan juga masih berlanjut. Hingga April, kredit perbankan di NTT tumbuh 3,15 persen secara tahunan.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 1,32 persen. Peningkatan kredit tersebut mengindikasikan aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha masih bergerak positif meskipun menghadapi tantangan kenaikan harga akibat pelemahan rupiah.
Menurut OJK, kombinasi pertumbuhan aset, peningkatan tabungan masyarakat, dan ekspansi kredit yang tetap terjaga menjadi indikator bahwa sektor perbankan di NTT berada dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan fungsi intermediasi dengan baik. "Hal-hal tersebut menunjukkan interaksi antara perbankan dan masyarakat tetap berjalan baik, sementara dari sisi kesehatan industri perbankan juga relatif lebih kuat," ujar Bambang.
Meskipun nilai tukar rupiah menghadapi tekanan, masyarakat NTT masih aktif menabung dan mengakses kredit, sehingga sektor perbankan tetap menjadi penopang penting bagi perekonomian daerah. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....