SIGAP Cabai, Strategi TPID NTT Kendalikan Inflasi lewat Urban Farming di Sekolah

  • 26 Jul 2026 17:32 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kota Kupang bersinergi menginisiasi program SIGAP Cabai. SIGAP adalah singkatan dari Sinergi Pengendalian Inflasi dan Hilirisasi Cabai.

Program ini berupa lomba budidaya dan hilirisasi cabai rawit bagi SMA/SMK se-Kota Kupang. Tujuannya mengendalikan inflasi melalui penguatan urban farming di lingkungan pendidikan.

Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTT, Selfi H. Nange, membuka kegiatan SIGAP Cabai 2026 di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang, Kamis, 23 Juli 2026. Ia berharap program tersebut melahirkan sekolah yang produktif, kreatif, dan menjadi contoh pengembangan urban farming.

“Sekolah bukan hanya tempat belajar di ruang kelas. Sekolah juga harus menjadi ruang pembelajaran nyata membangun ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi,” ujar Selfi.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan program One School One Product (OSOP). Selain itu juga mendukung stabilitas inflasi pangan melalui pendekatan inovatif. Selfi menyebut SIGAP Cabai merupakan wujud kerja sama lintas sektoral TPID bersama BBPP Kupang yang esensinya mengembangkan kewirausahaan siswa SMA/SMK se-Kota Kupang sesuai praktik budidaya terbaik.

Sebanyak 200 peserta dari 49 SMA/SMK sederajat di Kota Kupang mengikuti pelatihan di BBPP Kupang. Mereka dibekali ilmu budidaya cabai yang baik dan benar di lingkungan sekolah.

Setelah pelatihan, sekolah-sekolah akan mendapat sarana dan prasarana berupa bibit cabai. Bibit itu akan dibudidayakan hingga siap panen. Hasil budidaya dapat dimanfaatkan sekolah untuk keberlanjutan program kewirausahaan.

Program ini juga diharapkan menumbuhkan minat generasi muda pada sektor pertanian dan memperkuat ketersediaan pangan lokal. Dalam jangka panjang, urban farming di sekolah dapat mendukung pengendalian inflasi pangan di Kota Kupang.

Hasil panen cabai selanjutnya bisa dikembangkan melalui kegiatan hilirisasi. Produk turunannya antara lain sambal, cabai bubuk, dan pasta cabai.

Produk-produk itu memiliki nilai ekonomi lebih tinggi untuk keberlanjutan program. Kegiatan hilirisasi juga memberi ruang bagi siswa mengembangkan kreativitas. Mulai dari variasi rasa, bentuk produk, desain kemasan, hingga strategi pemasaran.

“Inovasi produk hasil urban farming diharapkan memperkuat kewirausahaan sekolah, diversifikasi pangan lokal, sekaligus mendukung pengendalian inflasi pangan di Kota Kupang,” kata Selfi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....