Buku Murah Jadi Solusi Kerinduan Literasi Warga Kupang lewat Penjualan di TikTok

  • 11 Agt 2026 20:06 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah tingginya harga buku dan biaya distribusi ke Nusa Tenggara Timur (NTT), warga Kupang ternyata tetap menunjukkan antusiasme terhadap bacaan yang ditawarkan dengan harga terjangkau. Hal itu terlihat dari pengalaman Elysa Anjarina, seorang bibliofil sekaligus penjual buku, yang menemukan banyak pembeli dari berbagai kalangan melalui penjualan buku preloved secara daring.

Kepada RRI Kupang, pada Sabtu, 8 Agustus 2026, Elysa mengatakan pembelinya tidak hanya berasal dari kalangan anak muda, tetapi juga mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga hingga bapak-bapak yang sama-sama mencari buku dengan harga ramah di kantong. “Saya tetap usahakan agar orang-orang yang suka baca buku di Kupang tetap bisa mengakses buku dengan harga terjangkau,” kata Elysa.

Menurutnya, tingginya minat masyarakat terhadap buku justru terlihat ketika ia menawarkan koleksi dengan harga lebih murah dibandingkan harga buku baru. Bahkan, sejumlah buku yang semula diperkirakan sulit terjual ternyata mendapat banyak peminat, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer, Laila S. Chudori dan Ahmad Tohari yang mengangkat isu sosial, sejarah serta kehidupan masyarakat.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi di Kupang tidak selalu berkaitan dengan rendahnya minat membaca. Elysa justru melihat minat baca masyarakat Kupang cukup tinggi, bahkan permintaan buku datang dari luar kota seperti Flores dan Rote, sehingga tantangan yang lebih terasa adalah bagaimana menghadirkan bacaan dengan harga yang mampu dijangkau masyarakat.

Fenomena membludaknya peminat buku murah di Kupang tidak lepas dari tingginya biaya distribusi logistik yang harus ditanggung menuju Nusa Tenggara Timur. Mahalnya ongkos kirim dari pulau Jawa membuat harga buku baru di wilayah ini seringkali melambung jauh, menjadi beban tersendiri bagi kantong pelajar maupun masyarakat umum.

Belum lagi keterlambatan distribusi juga dapat menghambat ketersediaan buku ketika permintaan sedang meningkat. Kondisi tersebut membuat buku bekas menjadi salah satu alternatif bagi pembaca yang ingin tetap mendapatkan bacaan tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar membeli buku baru.

Kondisi ini secara langsung menciptakan hambatan struktural yang membatasi akses masyarakat terhadap informasi dan ilmu pengetahuan berkualitas. "Tantangan yang paling bikin agak pusing itu untuk pemilihan harga dan nentuin harganya masih tetap terjangkau dan masih bisa diakses oleh orang-orang ya, karena ongkirnya lumayan," ujarnya.

Namun bagi Elysa, buku murah bukan sekadar strategi berjualan, tetapi juga menjadi cara untuk membuka akses bacaan bagi lebih banyak orang. Di tengah tantangan harga dan distribusi buku di NTT, tingginya minat warga Kupang terhadap buku murah memperlihatkan bahwa semangat membaca masih tumbuh, sebab yang dibutuhkan adalah semakin banyak akses terhadap buku yang berkualitas, asli dan terjangkau. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....