Sinergi Komunitas dan Media Perkuat Akses Ekosistem Literasi Digital di NTT
- 26 Mei 2026 14:19 WIB
- Kupang
Poin Utama
- Menurut pegiat literasi Paskalis Lauko, riset dan penelitian perlu dibawa lebih dekat ke masyarakat agar hasil pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang akademik.
- diseminasi hasil riset kepada publik penting dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang kontekstual dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
- tantangan besar yang masih dihadapi di lapangan adalah adanya ketimpangan akses infrastruktur digital yang belum merata di berbagai daerah NTT.
- Frans Pati Herin menilai perkembangan minat baca generasi muda saat ini menunjukkan tren positif, terutama di kalangan generasi Z.
RRI.CO.ID, Kupang - Membangun akses ekosistem literasi digital berbasis riset dan penelitian di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di tengah derasnya arus informasi digital. Hal ini mengemuka dalam diskusi podcast yang menghadirkan pegiat literasi Buku Bagi NTT (BBNTT), Paskalis Lauko dan jurnalis Harian Kompas, Frans Pati Herin di RRI pada Seini, 18 Mei 2026.
Paskalis Lauko mengatakan, literasi tidak hanya berbicara soal membaca buku, tetapi juga mencakup literasi digital, sains, hingga kemampuan memahami informasi secara kritis. Menurutnya, riset dan penelitian perlu dibawa lebih dekat ke masyarakat agar hasil pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang akademik.
“Bagaimana kita membangun satu ekosistem yang terhubung sehingga kalau bicara literasi ke depannya, backbond literasi digital NTT itu mau dibawa ke mana,” ujar Paskal. Ia menambahkan, diseminasi hasil riset kepada publik penting dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang kontekstual dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Paskal menjelaskan langkah nyata telah diambil melalui kerja sama BBNTT dengan lembaga riset untuk membumikan pengetahuan tersebut. "Kerja sama ini mencoba mempopulerkan riset-riset tanpa menghilangkan substansinya, lalu format populer itu diberikan ke kami komunitas untuk didistribusikan ke masyarakat," ujar Pascalis.
Namun, tantangan besar yang masih dihadapi di lapangan adalah adanya ketimpangan akses infrastruktur digital yang belum merata di berbagai daerah NTT. Paskal juga menambahkan bahwa kiriman buku digital (ebook) seringkali sulit diakses oleh anak-anak di pedalaman karena terkendala oleh ketiadaan jaringan internet.
Sementara itu, Frans Pati Herin menilai perkembangan minat baca generasi muda saat ini menunjukkan tren positif, terutama di kalangan generasi Z. Frans mengaku menemukan banyak anak muda di NTT yang mulai memanfaatkan ruang digital bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk membaca dan mencari informasi.
“Anak-anak Gen Z yang selama ini dianggap hanya scroll TikTok, ternyata ada juga yang membaca buku digital dan berdiskusi tentang buku yang mereka baca,” kata Frans. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi kabar baik bagi perkembangan budaya literasi digital di Indonesia, termasuk di NTT.
Meski minat baca menunjukkan tren positif, banjir informasi di ruang digital saat ini memicu persoalan baru terkait kualitas konten yang dikonsumsi masyarakat. Frans mengingatkan bahwa pemahaman masyarakat seringkali masih terjebak oleh informasi hoaks akibat minimnya kesadaran untuk melakukan verifikasi data.
Oleh karena itu, publik dituntut untuk lebih jeli dalam memilih sumber bacaan serta memanfaatkan ekosistem digital dengan penuh tanggung jawab. "Anak muda Gen-Z di NTT harus bijak memanfaatkan ruang digital itu untuk mengambil informasi ataupun membagikan informasi," tegas Fran dalam pesan penutupnya.
Pada akhirnya, pembangunan literasi digital yang inklusif di NTT tidak dapat bergerak sendiri melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh elemen masyarakat. Keduanya berharap kolaborasi antara komunitas, media, akademisi serta masyarakat dapat terus diperkuat untuk membangun ekosistem literasi digital yang inklusif dan berkelanjutan di NTT.
Akses terhadap pengetahuan harus dipandang sebagai hak dasar setiap individu demi mendorong perubahan perilaku yang lebih cerdas di era transformasi digital. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....