Sobi Kupang Hadirkan Pengembangan Ekonomi Berbasis Desa Energi Berdikari
- 25 Mei 2026 07:19 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Program Desa Energi Berdikari yang berlokasi di Desa Pukdale, Kecamatan Kupang timur, Kabupaten Kupang, NTT, dalam 3 tahun belakangan ini berfokus pada transformasi ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan maksimal potensi pertanian lokal. Desa ini diinisiasi oleh Pertamina Fondation dan dijalankan bersama Sobat Bumi (Sobi) Regional Kupang.
Anggota Sobat Bumi (Sobi) Kupang, Allda toma dan Irmawati Widu Hau kepada RRI dalam wawancara pada Jumat, 22 Mei 2026, menjelaskan dengan melihat melimpahnya komoditas seperti pisang, kelapa, tomat, hingga jagung, program ini berupaya mengubah pola pikir warga dari sekadar petani tradisional menjadi pelaku ekonomi kreatif yang mandiri. Fokus utama pemberdayaan ini adalah memberikan nilai tambah pada setiap hasil bumi, sehingga tidak lagi dijual mentah dengan harga rendah atau dibuang begitu saja.
Langkah konkret yang dilakukan oleh tim ekonomi Sobi adalah menggerakkan kelompok pemberdayaan perempuan untuk mengolah komoditas yang sebelumnya kurang bernilai ekonomi tinggi. Bendahara umum Sobi Regional Kupang, Irma, mengungkapkan pendampingan ini difokuskan pada peningkatan kualitas produk olahan agar memiliki daya saing pasar yang lebih baik.
"Pemberdayaan dari kami adalah pengembangan produk berupa keripik pisang dengan nama lokal 'Lokadale', sehingga pisang yang tadinya hanya untuk pakan ternak kini bisa menghasilkan pendapatan bagi mama-mama di desa," ujarnya. Transformasi ekonomi ini juga didukung oleh perbaikan kualitas hasil panen melalui penerapan metode pertanian organik yang lebih sehat dan bernilai jual tinggi.
Tim edukasi Sobi secara aktif membimbing para petani untuk beralih dari ketergantungan pada pupuk kimia ke penggunaan pupuk organik yang diolah dari limbah ternak dan sisa hasil kebun sendiri. Meskipun memerlukan waktu dan kesabaran, para petani mulai merasakan dampak positif, di mana produk organik mereka kini mulai dicari oleh konsumen dari Kota Kupang yang bersedia membayar dengan harga yang lebih layak.
Pengembangan ekonomi ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang menjadi tulang punggung operasional di desa tersebut. Penggunaan panel surya pada mesin pencacah dan rumah produksi keripik terbukti mampu meningkatkan efisiensi proses produksi secara drastis dibandingkan cara manual yang dulunya melelahkan.
Dengan dukungan energi yang stabil, para kelompok tani dan pengolah produk kini dapat berproduksi lebih cepat dan dalam skala yang lebih besar, sehingga perputaran ekonomi di tingkat rumah tangga pun semakin meningkat.
Keberlanjutan perputaran roda ekonomi ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif dan penguasaan teknologi oleh para pemuda desa sebagai penggerak utama di lapangan. Bendahara DEB Sobi, Allda, menekankan peran pemuda sangat penting dalam mengoperasikan alat-alat produksi dan mengelola pemasaran digital agar produk lokal Tuapukan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
"Kami sedang dalam tahap pemberdayaan untuk adik-adik atau kakak-kakak di desa agar mampu mengoperasikan alat-alat panel surya dan teknologi IoT (Internet of Things) yang kami terapkan, sehingga mereka bisa mandiri dalam mengelola roda ekonomi desanya," kata Allda. Saat ini, fokus pengembangan diarahkan pada standarisasi kemasan dan pengurusan legalitas produk UMKM, termasuk label halal, untuk memperkuat posisi tawar di pasar modern.
Dengan dukungan infrastruktur dari Pertamina Foundation dan pendampingan berkelanjutan, masyarakat Tuapukan kini tidak lagi hanya menjadi penonton di desanya sendiri, melainkan menjadi subjek ekonomi yang mampu mengelola kekayaan alamnya. Kelompok-kelompok tani dan ekonomi yang terbentuk kini telah menjadi wadah kolektif bagi warga untuk saling mendukung dalam meningkatkan pendapatan keluarga.
Hingga kini program Desa Energi Berdikari di Desa Tuapukan masih terus dikembangkan dan ditargetkan menjadi desa percontohan di Nusa Tenggara Timur. Melalui kolaborasi antara masyarakat, mahasiswa, dan Pertamina Foundation, desa diharapkan mampu menjadi kawasan mandiri yang memanfaatkan secara maksimal potensi pertanian, energi bersih sekaligus menggerakkan ekonomi warga secara berkelanjutan.
Dengan menata alur produksi dari hulu ke hilir, mulai dari pemanfaatan energi untuk irigasi, penggunaan pupuk organik, hingga pengemasan produk olahan, masyarakat Desa Tuapukan berhasil menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, potensi desa yang tersembunyi mampu menjadi kekuatan besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....