Metode Tanam T3 Bantu Petani Lahan Kering Desa Enoraen
- 18 Mei 2026 12:50 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang — Pakar pertanian Prof. Tony Basuki memperkenalkan metode tanam jagung tanpa tugal atau T3 kepada kelompok tani di Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Sabtu, 16 Mei 2026. Inovasi pertanian tersebut mendapat perhatian besar dari masyarakat karena dinilai mampu membantu petani meningkatkan produktivitas di wilayah lahan kering sekaligus mengurangi beban kerja saat musim tanam.
Kegiatan pelatihan pertanian yang berlangsung di Desa Enoraen, diikuti para kelompok tani, tokoh masyarakat, pemerintah desa, hingga warga setempat. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tony menjelaskan pentingnya perubahan pola pikir petani dalam mengelola lahan pertanian agar hasil yang diperoleh mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Menurutnya, selama ini sebagian besar petani di wilayah lahan kering masih menanam jagung dalam jumlah kecil sehingga hasil produksi belum cukup menopang kebutuhan ekonomi rumah tangga. Padahal, lahan pertanian di wilayah Amarasi Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan apabila dikelola dengan cara yang tepat.
Prof. Tony mengatakan, petani perlu berani memperluas lahan tanam hingga minimal satu hektar atau setara lapangan sepak bola agar hasil panen lebih maksimal. Menurutnya, apabila petani hanya menanam dalam skala kecil, maka keuntungan yang diperoleh juga tidak akan mampu membawa perubahan ekonomi bagi keluarga.
“Kalau petani mau hebat, minimal harus punya jagung satu hektar. Membayangkan satu hektar itu seperti lapangan sepak bola. Kalau hanya sedikit, jangan bermimpi petani bisa maju,” ucap Prof. Tony, saat di temui RRI.CO.ID, Sabtu, 16 Mei 2026.
Ia menjelaskan, kondisi lahan kering di wilayah Nusa Tenggara Timur membuat jagung menjadi salah satu komoditas utama yang paling memungkinkan dikembangkan masyarakat. Selain jagung, masyarakat juga mengandalkan ternak sapi sebagai sumber ekonomi keluarga, menurutnya, petani tidak bisa terus bergantung pada penjualan ternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Prof. Tony mendorong masyarakat untuk meningkatkan hasil pertanian melalui inovasi dan teknik budidaya yang lebih efisien. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah T3 atau tanam tanpa tugal, yakni teknik menanam jagung tanpa harus melubangi tanah satu per satu menggunakan kayu tugal seperti cara tradisional yang selama ini dilakukan petani.
Dalam metode tersebut, benih jagung dirangkai menggunakan benang khusus dengan jarak tanam yang telah diatur sebelumnya. Benih yang sudah dirangkai kemudian tinggal dibentangkan di lahan yang telah disiapkan sehingga proses tanam menjadi lebih cepat dan praktis.
| Baca juga: Meksi Mooy Dorong Peran Adat untuk Wisata |
Prof. Tony mengatakan, metode tersebut sangat membantu petani, khususnya mama-mama petani, karena dapat mengurangi aktivitas berat di bawah panas matahari. Petani juga tidak perlu lagi bekerja terlalu lama di kebun saat musim tanam tiba.
“Mama-mama tidak perlu lagi berhari-hari di kebun kena panas matahari. Tinggal merangkai benih di rumah, nanti saat musim tanam tinggal dibawa ke kebun dan dipasang. Pinggang juga tidak sakit lagi karena tidak terus-menerus menugal,” ucapnya.
Ia menjelaskan, proses merangkai benih dapat dilakukan jauh sebelum musim hujan tiba. Dengan demikian, saat memasuki musim tanam, petani tinggal membawa rangkaian benih ke kebun dan memasangnya sesuai jalur tanam yang telah dibuat.
Inovasi sederhana tersebut dapat membantu petani menghemat waktu, tenaga, serta mempercepat proses penanaman di lahan yang luas. Ia berharap metode itu dapat diterapkan secara bertahap oleh kelompok tani di Desa Enoraen maupun wilayah lain di Kabupaten Kupang.
Sementara itu, Kepala Desa Enoraen, Sariwan Hafi Takain menyambut baik pelatihan pertanian yang diberikan kepada masyarakat. Ia mengatakan, pemerintah desa mendukung penuh berbagai inovasi pertanian yang dapat meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola lahan pertanian.
Menurutnya, selama ini masyarakat masih membutuhkan pendampingan dan pelatihan terkait teknik pertanian modern yang sesuai dengan kondisi lahan kering di wilayah Amarasi Timur. Karena itu, pemerintah desa berencana menggelar pelatihan lanjutan bagi kelompok tani di wilayah tersebut.
“Nanti kita akan buat jadwal pelatihan untuk kelompok tani supaya masyarakat tahu cara-cara baru dalam bertani. Jadi apa yang belum pernah kita tahu bisa dipelajari bersama,” ucap Kepala Desa Enoraen.
Ia menambahkan, selain jagung, masyarakat juga akan diperkenalkan dengan pengolahan ubi sebagai bahan pangan alternatif yang memiliki nilai tambah ekonomi. Menurutnya, selama ini ubi hanya dikonsumsi secara sederhana, padahal komoditas tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan lain.
Sariwan berharap inovasi pertanian dan pelatihan yang diberikan dapat membuka wawasan masyarakat untuk lebih kreatif dalam mengembangkan sektor pertanian desa. Pemerintah desa juga berharap para petani semakin termotivasi untuk mengelola lahan secara maksimal agar hasil pertanian dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Desa Enoraen diharapkan mampu menerapkan metode pertanian yang lebih efisien, produktif, dan sesuai dengan kondisi lahan kering di wilayah Amarasi Timur. Dengan dukungan pelatihan dan inovasi berkelanjutan, sektor pertanian diharapkan tetap menjadi kekuatan utama ekonomi masyarakat pedesaan di Kabupaten Kupang. (AI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....