Komunitas Lino Tana Dite Jadikan Pangan Lokal sebagai Penggerak Ekonomi Mandiri
- 05 Jun 2026 10:41 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Semangat anak muda dalam mengembangkan pangan lokal terus tumbuh di Kabupaten Manggarai Barat. Melalui Komunitas Lino Tana Dite, generasi muda dari 10 desa dampingan berkolaborasi mendorong sistem pangan lokal berkelanjutan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Dalam wawancara bersama RRI pada Kamis, 4 Juni 2026, anggota Komunitas Lino Tana Dite Antonia Rahmawati menceritakan kelompok yang dibentuk pada tahun 2024 oleh Konsorsium Pangan Bernas ini menjadi wadah bagi anak-anak muda kreatif untuk belajar, berinovasi, dan memperkuat jejaring. Mereka bertransformasi dari sekadar petani menjadi wirausahawan muda yang mampu mengolah pangan lokal menjadi produk bernilai jual tinggi.
Antonia mengungkapkan makna mendalam komunitasnya. " Lino Tana Dite berarti "Bumi Rumah Kita". Ini menjadi wadah bagi pemuda dari sepuluh desa dampingan untuk mengolah potensi hasil bumi secara kreatif dan berkelanjutan," ucapnya.
Ia pun membagikan hasil inovasi produk seperti kopi asli Manggarai, rebok gula aren, hingga minyak kemiri produksi rumahan menjadi primadona dalam olahan mereka. “Kami berusaha mengolah pangan lokal menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi tanpa menghilangkan cita rasa dan nilai gizinya,” ungkap Antonia.
Menurut Antonia, fokus utama komunitas adalah memperkuat sistem pangan lokal yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Tujuan utama kami lebih ke sistem pangan yang berkelanjutan dan mengutamakan pangan lokal yang harus terus dilestarikan,” katanya.
Komunitas ini juga menerapkan prinsip pertanian ramah lingkungan yang mengedepankan penggunaan pupuk organik sebagai ganti pupuk kimia. Langkah ini diambil bukan tanpa hambatan, karena mereka sempat diragukan oleh warga setempat.
Antonia menyebut sorgum sebagai salah satu komoditas yang potensial dikembangkan karena memiliki ketahanan yang baik terhadap perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem.
Dalam aspek ekonomi, komnitas ini membangun ekosistem yang mandiri dengan memastikan seluruh bahan baku produk diambil dari lingkungan sekitar atau hasil tani masyarakat desa. Strategi ini menciptakan perputaran ekonomi yang inklusif, di mana masyarakat setempat terlibat aktif sebagai penyedia bahan baku sekaligus konsumen pertama. Dukungan dari jejaring Pangan Bernas kemudian membuka pintu akses pasar yang lebih luas, seperti ke hotel, kafe, dan toko-toko besar.
Lebih jauh, komunitas ini juga giat melakukan advokasi kepada pemerintah daerah, mulai dari tingkat desa hingga DPRD, untuk terus mengutamakan pangan lokal dalam berbagai kegiatan resmi. Mereka optimis upaya ini dapat memperkuat posisi pangan lokal sebagai pilihan utama yang bergizi dan dapat diandalkan, bukan sekadar komoditas masa lalu.
Advokasi ini bertujuan untuk memastikan dukungan kebijakan yang berkelanjutan bagi pertanian organik. Disisi yang lain, target jangka panjang komunitas ini adalah menciptakan generasi mandiri yang mampu menjadi tutor bagi masyarakat luas serta generasi muda lainnya.
Antonia dan teman-temannya bercita-cita agar produk unggulan mereka tidak hanya berjaya di pasar lokal, tetapi juga mampu menembus pasar regional hingga ke Kupang. Dengan mengawinkan kearifan nenek moyang dan inovasi modern, mereka berhasil menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus menjaga kelestarian bumi.
Kini, pangan lokal tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan menjadi identitas kebanggaan yang berdaya guna secara ekonomi bagi masyarakat. Hal ini diharapkan menjadi pemicu bagi anak muda lainnya untuk mulai melirik sektor pertanian sebagai lahan berkarya yang menjanjikan.
Melalui semangat "Muda Berdaya, Pangan Lokal Berjaya", Lino Tana Dite telah membuktikan bahwa anak muda mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang tangguh. Ia berharap semakin banyak anak muda yang terlibat dalam pengembangan pangan lokal dan kewirausahaan desa.
“Kami ingin menjadi tutor bagi masyarakat dan generasi muda lainnya, serta membawa produk-produk lokal kami agar bisa dikenal lebih luas hingga ke pasar yang lebih besar,” tutup Antonia. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....