MEREKAM KOTA 2026 Ungkap Jejak Tubuh, Kerja dan Migrasi di Kupang
- 05 Okt 2026 11:39 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kota tidak hanya dibentuk oleh gedung, jalan, dan pembangunan. Di balik setiap sudutnya, ada tubuh-tubuh yang bekerja, berpindah, bertahan, dan meninggalkan jejak.
Gagasan inilah yang diangkat dalam MEREKAM KOTA 2026 pinggir piring: Tubuh, Kerja dan Migrasi Pinggir–Pusat, yang resmi dibuka pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di de Museum Cafe JKK, Kelurahan Lai Lai Bisi Kopan, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pameran arsip publik ini terbuka untuk umum dan berlangsung hingga 17 Oktober 2026, setiap hari pukul 17.00–22.00 WITA.

Berbeda dari tiga penyelenggaraan sebelumnya, MEREKAM KOTA 2026 hadir dengan cakupan kuratorial yang lebih luas. Kali ini, pameran mengajak publik melihat Kota Kupang dari sisi yang kerap luput dari narasi utama yakni pengalaman tubuh, kerja, serta migrasi dari pinggir menuju pusat dan sebaliknya.
Melalui tema “pinggir piring”, MEREKAM KOTA menelusuri bagaimana perjalanan manusia turut membentuk wajah Kota Kupang. Migrasi tidak sekadar dipahami sebagai perpindahan tempat tinggal, sementara kerja bukan hanya persoalan mata pencaharian.
Keduanya melekat pada tubuh manusia, pada pengalaman, ingatan, perjuangan, dan kehidupan sehari-hari.
Pembukaan pameran dihadiri sejumlah pihak, salah satunya Pdt. Olfi Magang-Mooy, S.Th., M.Hum., Ketua Majelis Jemaat Gereja Kota Kupang yang menaungi de Museum Cafe JKK sebagai lokasi pameran. Dalam sambutannya, Pdt. Olfi menyebut MEREKAM KOTA sebagai bagian dari proses pewarisan ingatan antargenerasi.
“Sekarang kalian merekam kami. Masa yang kami lewati, yang tidak bisa kami tulis tapi anak-anak kami ini yang tulis. Di masa depan kalianlah yang akan direkam oleh generasi selanjutnya,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu napas penting dalam pameran. Sebab, arsip bukan hanya tentang masa lalu.
Ia juga menjadi cara untuk memastikan pengalaman warga tidak hilang ketika waktu terus bergerak. Pdt. Olfi bahkan menghubungkan gagasan tersebut dengan pengalamannya bersama salah satu tokoh yang diangkat dalam MEREKAM KOTA 2026, yakni Mama Martina, seorang koster perempuan sekaligus buruh cuci ketika dirinya bertugas sebagai pendeta di Jemaat Tiberias TDM.
Kisah Mama Martina memperlihatkan bagaimana tubuh menjadi ruang penyimpanan pengalaman. Tubuh tidak hadir sekadar sebagai objek yang direkam, tetapi membawa ingatan tentang kerja, perjalanan hidup, relasi sosial, serta pengalaman membentuk sebuah kota.
Pameran ini juga resmi dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kupang, Frengki Amalo, S.Sos., M.M. Dalam sambutannya, Frengki memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan MEREKAM KOTA sekaligus mengingatkan bahwa masa depan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik.

Menurutnya, pertanyaan penting tentang Kota Kupang bukan semata-mata apa yang akan dibangun, tetapi siapa yang akan merawat cerita dari setiap warga yang layak dikenang. Gagasan tersebut terasa kuat dalam pameran yang mempertemukan arsip keluarga, penelitian wilayah, kisah warga, karya seni, serta dokumentasi visual.
MEREKAM KOTA 2026 berusaha menghadirkan tiga unsur utama, yakni memori, ruang, dan imajinasi. Memori hadir melalui arsip keluarga, pengantar sejarah wilayah, serta karya para seniman LAB INGATAN yang merespons sejarah ruang.
Sementara itu, aspek ruang terlihat melalui tulisan mengenai tokoh-tokoh yang kisahnya diangkat dari setiap ruang penelitian, termasuk karya instalasi MEREKAM KOTA. Adapun imajinasi hadir dalam dua lapis: imajinasi tentang Kupang sebelum seseorang datang dan menetap di kota ini, serta imajinasi yang terbentuk setelah mengalami dan menjalani kehidupan di Kupang.
Sebanyak sembilan tulisan penelitian menjadi bagian dari pameran, yakni Berlayar dan Berbaur, Bolelebo Pelabuhan Tenau Lelebo, Manusia-manusia Pinggir, Karang Dempel yang Telah Redup, Lapak Penghargaan, Mesin tanpa Seragam, Merajut Karir di Ruang Domestik, Manajer Jalanan, dan Liliba di Tepian TDM. Pameran juga menghadirkan tiga karya seniman LAB INGATAN, sejumlah arsip dari tiga ruang penelitian, serta empat foto dokumenter yang merekam para tokoh “pinggir piring” MEREKAM KOTA.
| Baca juga: Jejak Pengabdian Charles Dikenang Rekan ASN |
Bagi sebagian pengunjung, pameran ini bukan sekadar ruang untuk melihat arsip, tetapi juga kesempatan menemukan kembali tempat tinggal dan lingkungan mereka dari sudut pandang yang berbeda. Salah satunya Ivan Baowolo.
Sebagai warga Tuak Daun Merah (TDM), ia mengaku mendapatkan banyak informasi baru mengenai wilayah tempat tinggalnya. “Beta anak TDM, ini kali banyak hal yang baru beta tahu, kayak kenapa banyak orang Rote di TDM,” ujarnya.
Ivan berharap MEREKAM KOTA dapat menghadirkan gambaran ruang yang lebih kuat, terutama mengenai wilayah-wilayah yang dibahas dalam tulisan penelitian. Menurutnya, pengunjung tidak cukup hanya membaca cerita.
Mereka juga perlu dibantu untuk membayangkan ruang, suasana, dan kehidupan yang menjadi latar dari setiap kisah. Pada akhirnya, MEREKAM KOTA 2026 tidak hanya bertanya tentang bagaimana sebuah kota tumbuh, tetapi juga siapa saja yang membuatnya hidup.
Di antara migrasi, pekerjaan, ruang domestik, pelabuhan, pasar, jalanan, dan permukiman, terdapat cerita warga yang mungkin selama ini berada di pinggir narasi. Melalui arsip dan kesaksian mereka, pameran ini mencoba membawa cerita-cerita tersebut kembali ke tengah ingatan Kota Kupang.

MEREKAM KOTA 2026 pinggir piring: Tubuh, Kerja dan Migrasi Pinggir–Pusat dapat dikunjungi di de Museum Cafe JKK, Kelurahan Lai Lai Bisi Kopan, Kota Kupang, hingga 17 Oktober 2026, setiap hari pukul 17.00–22.00 WITA. (rls/DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....