Bahasa Jadi Media Penyembuhan dalam Tradisi Naketi Orang Timor

  • 11 Mei 2026 16:59 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Bahasa bukan sekadar alat komunikasi bagi masyarakat Atoin Pah Meto (Timor), melainkan instrumen sakral yang memiliki daya magis untuk menyembuhkan, mendamaikan, hingga menolak bala.

Menurut pemerhati budaya Timor, Ibrahim Nenohai, dalam "Obrolan Budaya" RRI Pro 4 Kupang, Sabtu, 9 Mei 2026, ritual Naketi (secara etimologis berarti mensejajarkan atau menyusun) merupakan sistem religi kuno yang masih eksis hingga kini, meski telah mengalami transformasi media dan bentuk.

Ritual Naketi dilakukan ketika terjadi ketidakseimbangan dalam hidup, seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, bencana, atau konflik sosial. Masyarakat percaya bahwa kejadian tersebut bersumber dari hubungan yang tidak harmonis antara manusia, alam (Pah), dan Sang Pencipta (Uis Neno).

"Dalam ritual ini, bahasa berfungsi secara magis untuk mencari tahu penyebab tersembunyi di balik sebuah peristiwa. Orang Timor tidak akan langsung ke dokter jika sakit; mereka akan melakukan Naketi untuk mensejajarkan bahasa dan mencari tahu apakah ada janji yang belum ditepati atau hubungan yang retak," ujarnya.

Dahulu, ritual ini dipimpin oleh seorang Menane (dukun) dengan berbagai media seperti, Otek Naus, yaitu memotong pisang atau duri, Le Auni atau mengukur tombak, Te Atef, atau membedah hati ayam untuk melihat uratnya, dan Te'a, yaitu melihat urat daun sirih.

Seiring masuknya agama modern, ritual ini bertransformasi. Posisi Menane kini banyak digantikan oleh "Tim Doa," dan media hewan atau tanaman digantikan dengan doa-doa pengakuan. Meski bahasanya bisa dialihkan ke bahasa Indonesia, Ibrahim menegaskan bahwa kekuatan magisnya tetap ada karena intinya terletak pada pengakuan jujur dan ketulusan hati (Naketi Hatu-hati).

Ibrahim mengatakan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah politisasi budaya dan kurangnya pemahaman generasi muda. Namun, ia optimis bahwa tradisi ini tidak akan hilang dan terus terpelihara.

"Sejauh mana pun air mengalir, suatu saat ia akan kembali ke titik yang sama. Begitupun orang Atoin Pah Meto, saat menghadapi kebuntuan hidup, mereka akan kembali ke akarnya untuk melakukan Naketi," ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai filosofis dalam Naketi, seperti kejujuran, pengakuan salah, dan rekonsiliasi, dapat terus didokumentasikan dan dipahami sebagai kekayaan intelektual masyarakat NTT. Bahasa adalah refleksi dari jati diri dan hubungan kosmologis manusia dengan lingkungannya, karena itu sangat penting untuk menjaga lisan bagi masyarakat Timor.

"Salah bahasa terancam, salah kata badan binasa,” ujarnya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....