Oko Mama, Simbol Sakral dan Identitas Orang Timor

  • 11 Mei 2026 16:41 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dalam tradisi masyarakat Timor (Atoin Meto), Oko Mama bukan sekadar wadah anyaman sirih pinang biasa, melainkan elemen sakral yang menjadi jembatan komunikasi sosial, simbol hukum adat, hingga wadah yang mengandung nilai kebenaran tertinggi. Menurut budayawan Timor, Thimothius Kabu, dalam program "Obrolan Budaya" RRI Pro 4 Kupang, Kamis, 7 Mei 2026, Oko Mama adalah representasi keberadaban bagi orang Timor.

Secara harfiah, Oko berarti wadah yang dianyam dari daun lontar, sementara Mama berarti mengunyah (sirih pinang). Oko Mama terdiri dari dua bagian: induk (wadah bawah) dan tutup. Induk melambangkan gudang tempat menyimpan hasil, sedangkan tutup menjadi simbol perlindungan.

Adapun isi di dalam Oko Mama memiliki makna filosofis yang mendalam, seperti sirih yang melambangkan laki-laki, pinang yang melambangkan perempuan, kapur sebagai simbol ikatan atau penyatu keduanya dalam kebersamaan, dan tembakau sebagai simbol penyemangat. "Ketiganya jika menyatu akan menghasilkan warna merah. Itulah warna yang menunjukkan kemampuan orang Timor dalam berinteraksi sosial," jelasnya.

Thimothius mengungkapkan adanya unsur Fanu di dalam Oko Mama. Fanu adalah sesuatu yang bersifat supranatural dan melambangkan kebenaran yang tidak bisa dibantah.

"Jika ada sengketa dan Oko Mama sudah dihadirkan, maka kebenaran harus diungkapkan. Melanggar apa yang sudah dinyatakan lewat Oko Mama bisa berdampak fatal," ujarnya.

Selain kesakralannya, etika menyuguhkan Oko Mama juga mencerminkan karakter seseorang. Dalam tradisi suku di TTS (Timor Tengah Selatan), memberikan Oko Mama harus dilakukan dengan sikap berlutut, kepala menunduk, dan menggunakan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu atau orang tua, sehingga jika mengabaikan etika ini dianggap sebagai tanda bahwa seseorang tidak beradab.

Meskipun masih sangat eksis di wilayah pedesaan, tradisi ini menghadapi tantangan besar di wilayah perkotaan dan di kalangan generasi muda akibat akulturasi budaya. Thimothius juga menyayangkan adanya pihak-pihak yang menggunakan nama Oko Mama untuk kepentingan politik praktis tanpa memahami nilai sakralnya.

Ia berharap pemerintah dapat memasukkan nilai-nilai budaya seperti Oko Mama ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah. "Jika orang Timor tidak lagi memiliki Oko Mama di rumahnya atau tidak memahami nilai Fanu di dalamnya, maka ia kehilangan jati dirinya sebagai Atoin Meto," katanya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....