Rumah Tenun Terbengkalai, Penenun di Kupang Kehilangan Harapan

  • 29 Jun 2026 21:53 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang – Harapan perempuan penenun di Kelompok Tenun Lasbaun, kelurahan Penkase oeleta, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, untuk memiliki pusat produksi bersama kini tinggal kenangan. Rumah tenun yang dibangun pemerintah untuk mendukung aktivitas kelompok penenun tidak pernah benar-benar dimanfaatkan.

Kini bangunan tersebut terbengkalai, sementara para penenun kembali bekerja sendiri-sendiri dari rumah. Mama Agrivina Boki, salah seorang anggota kelompok tenun, saat di wawancarai RRI.CO.ID, Senin 29 Juni 2026, mengisahkan bahwa sejak rumah tenun selesai dibangun, kelompoknya tidak pernah sekalipun menggunakan bangunan tersebut.

Akibat tidak adanya tindak lanjut dari pemerintah, kelompok yang semula dibentuk untuk mengelola rumah tenun perlahan bubar. Bangunan yang diharapkan menjadi tempat berkumpul dan bekerja bersama kini rusak dimakan waktu.

"Mulai rumah tenun itu selesai dibangun, kami sama sekali tidak pernah pakai. Sampai hari ini kelompok sudah bubar. Rumah tenunnya juga sudah rusak, pintu-pintu sudah lepas. Kami akhirnya mundur satu per satu dan sekarang menenun masing-masing di rumah," ucap Mama Agrivina, kepada RRI.CO.ID,Senin 29 Juni 2026.

Menurutnya, pada awal pembangunan pemerintah menjanjikan rumah tenun akan menjadi pusat kegiatan kelompok sekaligus membantu pemasaran hasil tenun masyarakat. Namun harapan tersebut tidak pernah terwujud. Tidak ada pendampingan maupun pengelolaan lanjutan setelah bangunan selesai dibangun.

Akibatnya, para penenun terpaksa kembali bekerja secara mandiri di rumah masing-masing. Mereka memproduksi kain tenun dengan peralatan sendiri dan mencari pasar secara swadaya tanpa dukungan fasilitas yang sebelumnya dijanjikan.

Iamengatakan para penenun kini hanya mengandalkan toko-toko atau pembeli dari luar daerah untuk memasarkan hasil karya mereka. Padahal, apabila rumah tenun dapat difungsikan sebagaimana rencana awal, tempat tersebut dapat menjadi pusat produksi sekaligus ruang promosi bagi kain tenun khas daerah.

Ia mengaku tidak mengetahui apakah pemerintah masih memiliki rencana untuk menghidupkan kembali rumah tenun yang kini terbengkalai. Menurutnya, informasi mengenai pengelolaan bangunan tersebut lebih banyak diketahui oleh pengurus kelompok.

Kondisi rumah tenun yang tidak pernah difungsikan menjadi perhatian masyarakat. Selain menyebabkan bangunan rusak dan tidak terawat, terbengkalainya fasilitas tersebut juga menghilangkan kesempatan bagi para penenun untuk bekerja secara berkelompok, saling berbagi pengalaman, serta meningkatkan kapasitas usaha mereka.

Masyarakat berharap pemerintah dapat mengevaluasi keberadaan rumah tenun tersebut dan mencari solusi agar bangunan yang telah dibangun dengan anggaran negara dapat kembali dimanfaatkan. Dengan pengelolaan yang baik, rumah tenun diharapkan tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan para penenun di Kabupaten Kupang. (AI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....