Nikmat Keamanan dalam Islam: Karunia Besar yang Sering Terlupakan
- 30 Mei 2026 09:20 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah kehidupan modern, banyak orang lebih fokus membicarakan ekonomi, pekerjaan, harga kebutuhan pokok, atau dinamika politik. Namun, ada satu nikmat besar yang sering terlupakan: nikmat keamanan.
Dalam literasi Islam, keamanan bukan sekadar situasi tanpa perang, tetapi keadaan yang membuat manusia dapat hidup, bekerja, beribadah, dan membangun masa depan dengan tenang.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut."
(QS. Quraisy: 3–4)
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah kebutuhan pangan, Allah menyebut rasa aman sebagai nikmat agung bagi manusia.
Di banyak negeri yang relatif stabil, termasuk kondisi sebagian besar masyarakat yang masih dapat beraktivitas normal, orang masih bisa bangun pagi, bekerja, sekolah, berdagang, beribadah di masjid, bepergian, dan berkumpul bersama keluarga tanpa suara ledakan atau ancaman perang.
Meski mungkin ada persoalan ekonomi, sosial, kriminalitas, atau perbedaan pandangan politik, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, keadaan seperti ini sering dianggap biasa, padahal menurut Islam, itu merupakan nikmat besar yang patut disyukuri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa memasuki pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan baginya dunia seluruhnya.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa keamanan ditempatkan sebagai salah satu ukuran besarnya karunia Allah kepada manusia.
Nilai keamanan sering kali baru benar-benar terasa ketika melihat keadaan negeri yang sedang mengalami konflik bersenjata atau perang.
Di beberapa wilayah dunia yang masih dilanda peperangan, banyak warga sipil kehilangan rumah, akses pendidikan, layanan kesehatan, bahkan anggota keluarga. Konflik berkepanjangan telah menyebabkan pengungsian massal, gangguan pangan, serta ketidakpastian hidup bagi jutaan orang. Kondisi kemanusiaan di beberapa kawasan konflik seperti Gaza, Sudan, dan Ukraina terus menjadi perhatian dunia internasional.
Di Gaza, misalnya, konflik yang berkepanjangan telah memicu krisis kemanusiaan berat, dengan banyak warga hidup dalam pengungsian, keterbatasan makanan, air, layanan kesehatan, dan rasa aman sehari-hari.
Sementara di Ukraina, perang yang berlangsung bertahun-tahun telah mengganggu kehidupan jutaan warga, merusak infrastruktur, serta membuat bantuan kemanusiaan menjadi kebutuhan besar bagi masyarakat terdampak.
Perbandingan ini mengingatkan bahwa kemampuan seseorang untuk tidur nyenyak di rumahnya, mengantar anak ke sekolah, membuka usaha, atau beribadah tanpa ancaman bom dan peluru adalah nikmat yang nilainya sangat besar.
Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk mensyukuri keamanan, tetapi juga menjaganya. Menebarkan fitnah, permusuhan, kekerasan, atau tindakan yang merusak ketertiban sosial bertentangan dengan semangat Islam yang menjaga kemaslahatan manusia.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS. Al-A'raf: 56)
Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat atau pemimpin negara, tetapi juga tanggung jawab masyarakat: menjaga persatuan, menghindari provokasi, menghormati perbedaan, dan mengedepankan penyelesaian masalah dengan hikmah.
Keamanan adalah nikmat besar yang sering tidak disadari karena manusia terbiasa dengannya. Namun, ketika melihat negeri-negeri yang hidup dalam konflik, perang, kelaparan, dan pengungsian, kita dapat memahami mengapa Islam menempatkan keamanan sebagai karunia yang sangat berharga.
Karena itu, mensyukuri keamanan tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan menjaga kedamaian, memperkuat persaudaraan, serta menggunakan suasana aman untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Sebab dalam pandangan Islam, rasa aman bukan sekadar kenyamanan hidup, melainkan bagian dari rahmat Allah yang menopang kehidupan manusia. (TP)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....