Benarkah Suku Sambas Gabungan Dayak Melayu dan Tionghoa
- 09 Jul 2026 09:10 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah masyarakat Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Sambas, sering terdengar anggapan bahwa Suku Sambas merupakan gabungan dari tiga etnis besar, yaitu Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Bahkan, ada yang menyebut nama "Sambas" berasal dari kata sam yang berarti "tiga" dalam bahasa Tionghoa dan bas yang dimaknai sebagai "bangsa" atau "suku". Namun, benarkah demikian?
Jawabannya adalah tidak sesederhana itu. Sejarah pembentukan masyarakat Sambas jauh lebih kompleks dan melibatkan proses migrasi, perdagangan, penyebaran agama, hingga asimilasi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Para sejarawan sepakat bahwa "Sambas" pada mulanya merupakan nama sebuah wilayah dan kerajaan, bukan nama kelompok etnis. Wilayah ini berkembang di sekitar Muara Ulakan, yaitu kawasan pertemuan Sungai Sambas Besar, Sungai Sambas Kecil, dan Sungai Teberau yang sejak lama menjadi jalur perdagangan penting di pesisir barat Kalimantan.
Seiring berkembangnya Kesultanan Sambas, masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai orang Sambas atau Melayu Sambas. Sebelum berdirinya Kesultanan Sambas, kawasan ini telah dihuni oleh berbagai kelompok Dayak yang merupakan penduduk asli Kalimantan. Mereka hidup di sepanjang aliran sungai maupun wilayah pedalaman dengan sistem kepercayaan tradisional.
Ketika para pedagang Melayu datang melalui jalur perdagangan maritim, terjadi interaksi yang intensif dengan masyarakat Dayak. Sebagian masyarakat Dayak kemudian memeluk Islam, menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan, serta mengadopsi adat Melayu. Dalam kajian sejarah Kalimantan Barat, proses ini sering disebut sebagai proses "menjadi Melayu".
Karena itu, banyak peneliti berpendapat bahwa sebagian masyarakat Melayu Sambas memiliki leluhur Dayak yang kemudian mengalami proses Islamisasi dan Melayuisasi.
Pengaruh terbesar terhadap identitas masyarakat Sambas berasal dari budaya Melayu. Kedatangan orang Melayu dari Sumatra, Semenanjung Melayu, Brunei, dan wilayah pesisir Kalimantan membawa bahasa Melayu, sistem pemerintahan, adat istiadat, serta agama Islam.
Puncak perkembangan budaya Melayu terjadi setelah berdirinya Kesultanan Sambas pada abad ke-17. Kesultanan tersebut menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran Islam di kawasan utara Kalimantan Barat.
Sejak saat itu, identitas Melayu menjadi identitas utama masyarakat Sambas yang masih bertahan hingga sekarang. Komunitas Tionghoa telah hadir di Sambas sejak berabad-abad lalu sebagai pedagang. Kehadiran mereka semakin berkembang pada masa perdagangan internasional dan aktivitas pertambangan emas di Kalimantan Barat.
Kontribusi masyarakat Tionghoa sangat besar terhadap perkembangan ekonomi, perdagangan, kuliner, dan kehidupan sosial di Sambas. Dalam beberapa keluarga memang terjadi perkawinan campuran antara masyarakat Melayu dan Tionghoa. Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh masyarakat Sambas memiliki garis keturunan Tionghoa.
Mengenai asal-usul nama Sambas sendiri, para peneliti menemukan beberapa versi. Versi pertama menyebut bahwa nama Sambas berasal dari letak geografis wilayah yang berada di pertemuan beberapa sungai besar. Versi kedua mengaitkan nama Sambas dengan kisah persahabatan antara tokoh Melayu dan Dayak yang kemudian menjadi simbol persatuan kedua kelompok masyarakat.
Sementara itu, versi ketiga yang cukup populer menyatakan bahwa kata sam berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti "tiga", sedangkan bas dimaknai sebagai "bangsa" atau "suku". Dari penafsiran tersebut muncul anggapan bahwa Sambas merupakan daerah tempat hidup tiga kelompok besar, yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Namun, sebagian besar sejarawan menempatkan penjelasan ini sebagai salah satu teori mengenai asal-usul nama Sambas, bukan sebagai bukti bahwa Suku Sambas terbentuk dari gabungan tiga etnis tersebut.
Jadi, Apakah Suku Sambas Merupakan Gabungan Tiga Suku? Secara antropologis, jawabannya tidak. Yang lebih tepat adalah bahwa masyarakat Sambas merupakan masyarakat Melayu yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. Identitas tersebut berkembang dari perpaduan masyarakat lokal, terutama Dayak, dengan budaya Melayu melalui penyebaran Islam. Dalam perkembangannya, masyarakat Sambas juga menerima pengaruh dari berbagai etnis lain, termasuk Tionghoa, Jawa, Bugis, Arab, dan kelompok pendatang lainnya.
Dengan kata lain, masyarakat Sambas merupakan hasil proses akulturasi budaya yang berlangsung selama ratusan tahun, bukan gabungan tiga suku dalam pengertian biologis atau genealogis. Pernyataan bahwa "Suku Sambas berasal dari gabungan Tionghoa, Dayak, dan Melayu" sebenarnya merupakan penyederhanaan dari sejarah yang jauh lebih kompleks.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Sambas berakar pada budaya Melayu yang berkembang di wilayah Sambas melalui interaksi dengan masyarakat Dayak sebagai penduduk awal, kemudian diperkaya oleh kehadiran komunitas Tionghoa dan berbagai kelompok etnis lainnya. Oleh karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Sambas adalah masyarakat Melayu yang tumbuh melalui proses akulturasi daripada menyebutnya sebagai gabungan tiga suku.
Memahami sejarah secara utuh membantu kita melihat bahwa identitas masyarakat Sambas dibentuk oleh perjalanan panjang perdagangan, kerajaan, agama, dan hubungan antaretnis yang berlangsung secara damai selama berabad-abad. (TP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....