Satu Kata Berubah: Gay dan Pergeseran Makna

  • 11 Feb 2026 07:39 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Perubahan makna kata dalam bahasa bukan hal baru. Namun pergeseran kata “gay” menjadi salah satu contoh paling mencolok dari yang awalnya berarti “bahagia” atau “ceria,” kini lebih dikenal sebagai identitas orientasi seksual, khususnya pria yang menyukai sesama jenis. Secara historis, kata gay berasal dari bahasa Prancis Kuno gai yang berarti riang, ceria, dan penuh warna. 

Dalam sastra Inggris klasik, istilah ini digunakan untuk menggambarkan suasana bahagia, seperti pada frasa “gay with flowers” yang berarti cerah penuh bunga. Memasuki abad ke-18 hingga 19, maknanya mulai bergeser. 

“Gay” tidak lagi sekadar merujuk keceriaan, tetapi juga dikaitkan dengan gaya hidup bebas, pesta, dan hedonisme. Perubahan makin signifikan pada akhir abad ke-19 ketika komunitas homoseksual di Barat menggunakan kata tersebut sebagai slang internal. 

Saat itu, homoseksualitas masih dikriminalkan sehingga diperlukan istilah yang lebih aman dan tidak stigmatif. Pada 1960-an, seiring menguatnya gerakan hak LGBT, kata “gay” diadopsi secara terbuka sebagai identitas. 

Sejak itu, makna “gay = homoseksual” menjadi penggunaan dominan secara global. Linguist asal Inggris David Crystal (University College London), pakar sejarah dan perkembangan bahasa Inggris, menilai perubahan makna adalah hal wajar.

Menurutnya, bahasa berubah karena pemakaian masyarakat, bukan semata aturan kamus. Sementara itu, Geoffrey Hughes dari University of the West of England, yang meneliti sejarah kosakata dan semantic shift, menyebut kasus ini sebagai spesialisasi makna dari sifat emosional menjadi identitas sosial.

Adapun profesor bahasa dan gender Oxford, Deborah Cameron, melihat pergeseran istilah terkait seksualitas sebagai cerminan perubahan posisi sosial dan identitas kelompok dalam masyarakat. Meski makna modernnya kini dominan, arti lama “gay” sebagai “ceria” belum sepenuhnya hilang. 

Istilah tersebut masih ditemukan dalam karya sastra dan teks klasik. Kasus ini menegaskan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti dinamika budaya, sejarah, dan identitas penuturnya.(TP)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....