Pasca Gempa Flores, Warga Masih Berjuang Pulihkan Kesehatan dan Trauma

  • 30 Sep 2026 19:34 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dampak gempa di wilayah Flores tidak hanya menyisakan kerusakan pada tempat tinggal dan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Di tengah ancaman gempa susulan dan tempat tinggal yang belum sepenuhnya aman, sebagian warga masih membutuhkan pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, hingga pendampingan untuk mengatasi trauma dan tekanan psikologis.

Salah satu warga Ende, Marianus Ghawa, mengatakan kondisi kesehatannya ikut terganggu karena kurangnya waktu istirahat setelah gempa. Rasa cemas juga masih dirasakan warga karena gempa susulan masih terjadi, sementara kondisi tempat tinggal belum sepenuhnya memberikan rasa aman.

“Yang paling kami butuhkan saat ini yaitu pemeriksaan kesehatan secara rutin serta ketersediaan obat-obatan, pelayanan kesehatan yang sudah dijangkau oleh masyarakat serta bantuan untuk mengatasi trauma dan tekanan akibat gempa yang terjadi,” ujar Marianus, Rabu, 30 September 2026 via whatsapp.

Menurutnya, sebagian kebutuhan obat telah terpenuhi melalui bantuan yang datang. Namun, masih terdapat sejumlah jenis obat yang belum tersedia, terutama obat yang dibutuhkan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Marianus Ghawa.

Marianus berharap bantuan kesehatan tetap menjadi perhatian utama selama proses pemulihan berlangsung. Ia ingin masyarakat terdampak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak hingga kondisi benar-benar pulih dan kehidupan warga dapat kembali berjalan normal.

Sementara itu, kondisi berbeda disampaikan Oktavianus Busa, warga Dusun Borowoso, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Ia mengaku kondisi kesehatannya relatif aman setelah gempa, meski sempat mengalami batuk akibat kondisi cuaca.

Namun, menurut Oktavianus, kelompok lanjut usia justru lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Faktor usia dan aktivitas yang harus tetap dilakukan di tengah situasi pascagempa membuat kondisi sebagian orang tua membutuhkan perhatian lebih.

Ia menilai penanganan pemerintah sejauh ini sudah membantu memenuhi kebutuhan kesehatan warga. Bahkan, sejumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan di tempat pengungsian atau balai warga telah mendapatkan penanganan.

“Di balai kami kemarin ada ibu-ibu yang stroke, yang sakit semuanya ditangani dengan baik,” katanya.

Meski demikian, Oktavianus menilai respons terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, petugas tidak cukup hanya melakukan pemantauan melalui pemerintah desa, tetapi perlu turun langsung dari rumah ke rumah untuk mengetahui kondisi warga secara lebih menyeluruh.

Oktavianus Busa.

Kebutuhan yang tak kalah penting, kata dia, adalah penanganan medis lanjutan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat gempa, termasuk mereka yang tertimpa material bangunan maupun warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengalami kepanikan. “Yang paling dibutuhkan saat ini adalah penanganan lebih lanjut,” ujarnya.

Selain ketersediaan obat dan tenaga medis, kondisi fasilitas kesehatan juga menjadi persoalan penting dalam proses pemulihan. Oktavianus menilai kerusakan pada sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, perlu segera mendapatkan perhatian.

Menurut dia, rumah sakit merupakan infrastruktur yang sangat vital dalam situasi bencana karena menjadi tempat rujukan bagi warga yang membutuhkan penanganan medis lebih serius. “Yang paling penting adalah rehabilitasi infrastruktur rumah sakit. Kita ketahui bahwa rumah sakit menjadi tempat yang paling urgent ketika ada yang sakit atau membutuhkan perhatian medis yang lebih memadai,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan membangun kembali rumah warga, tetapi juga memastikan sistem pelayanan kesehatan tetap berfungsi dan mudah dijangkau masyarakat. Kebutuhan kesehatan warga juga mencakup pemeriksaan rutin, ketersediaan obat untuk kelompok rentan, penanganan penyakit maupun cedera pascabencana, serta dukungan psikologis bagi warga yang masih mengalami kecemasan dan trauma.

Bagi warga terdampak, pemulihan kesehatan menjadi bagian penting untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, keberlanjutan bantuan medis dan pendampingan masyarakat diharapkan tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir, tetapi terus dilakukan hingga kondisi warga dan fasilitas kesehatan benar-benar pulih. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....