PMI Salurkan Bantuan Kemanusiaan di SLB Karya Murni Ruteng
- 29 Sep 2026 09:15 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai kembali menghadirkan dukungan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana. Kali ini, PMI menyapa para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Murni Ruteng melalui penyaluran bantuan, layanan kesehatan, promosi kesehatan (Promkes), dan Psychosocial Support Service (PSS), Jumat, 25 September 2026.
Dalam siaran pers yang diterima RRI, Selasa, 29 September 2026, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PMI memastikan layanan kemanusiaan dapat menjangkau kelompok yang membutuhkan perhatian dan pendampingan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Dalam kegiatan tersebut, PMI memberikan layanan kesehatan kepada siswa dan warga sekolah. Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan di lingkungan sekolah.
Relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai, Hilda P. S. Primon (22), menyampaikan bahwa dalam pemeriksaan dan pengobatan ditemukan sejumlah kasus.
“Dari 84 orang (laki-laki 35 orang dan perempuan 49 orang), kami menemukan kasus ISPA, chelpagia dan hipertensi,” kata Ayu.
Selain layanan kesehatan, tim Promkes PMI memberikan edukasi kesehatan dengan pendekatan yang mudah dipahami para siswa. Edukasi diarahkan pada penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Relawan PMI yang mendampingi kegiatan promosi kesehatan, Darius Lagut, mengatakan kegiatan diawali dengan edukasi PHBS dan simulasi enam langkah mencuci tangan.
“Saat kegiatan kami awali dengan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), edukasi dan simulasi 6 langkah mencuci tangan,” ujar Darius Lagut.
Menurut Ari, tantangan dalam layanan promosi kesehatan adalah menerjemahkan materi kepada peserta karena komunikasi harus menggunakan bahasa isyarat. Untuk mengatasi kendala tersebut, PMI melibatkan para guru dalam kegiatan.
Ari menambahkan, tantangan tersebut menjadi pengalaman baru yang dapat dipelajari relawan ketika memberikan pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
“Tantangan kami di lapangan adalah kesulitan dalam menerjemahkan materi dengan bahasa isyarat, tapi kami melibatkan para guru untuk menerjemahkannya, ini merupakan hal baru yang bisa kami pelajari ketika suatu saat dalam layanan kami menemukan anak yang berkebutuhan khusus,” ucap Ari.
Salah seorang siswa, Chelsea (15), juga menceritakan pengalamannya saat menghadapi gempa. Pernyataan Chelsea disampaikan menggunakan bahasa isyarat dan dibantu gurunya, Maria Novalia N Karmel.
“Saat gempa itu, saya dengan teman-teman sedang berdoa, kami kaget lalu lari keluar ruangan, karena adanya gempa susulan saya dan teman-teman takut dan tidak berani masuk ruangan,” ujar Chelsea (15) dengan bahasa isyarat yang dibantu oleh gurunya Maria Novalia N Karmel.
Sementara itu, layanan PSS diberikan untuk membantu menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi para siswa. Melalui aktivitas yang disesuaikan dengan usia dan kondisi peserta, layanan psikososial menjadi ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi, berekspresi, dan membangun kembali rasa percaya diri setelah menghadapi situasi sulit akibat bencana.
Fasilitator PSS, Rusliansyah, menjelaskan kegiatan tersebut dirancang untuk membangkitkan semangat para siswa sekaligus memberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa.
“Hari ini kami belajar bergembira dengan anak-anak yang sekolah disini, kegiatannya adalah bagaimana membangkitkan semangat anak-anak kita yang berkebutuhan khusus yaitu menerapkan simulasi gempa, diantaranya apa yang harus dilakukan, apalagi rata-rata siswa yang ada disini tinggal di asrama,” kata Rusliansyah.
Rusliansyah menjelaskan, para guru dilibatkan sebagai penyambung komunikasi karena tim PSS memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi dengan siswa SLB. Ia menyebut antusiasme pihak sekolah dan siswa sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan.
“Saat kegiatan berlangsung kami libatkan para guru untuk berkolaborasi sebagai penyambung komunikasi dengan siswa, para siswa dan pihak sekolah juga menerima kami dengan antusias yang sangat luar biasa,” ujar Rusliansyah.
Guru yang mendampingi siswa dalam layanan PSS, Verawaty Cangkung, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada PMI Kabupaten Manggarai atas berbagai layanan yang diberikan di sekolah.
“Saya mewakili suster dan rekan-rekan guru menyampaikan terima kasih atas kunjungan dari PMI untuk beberapa kegiatan-kegiatan positif yang diberikan kepada sekolah kami seperti layanan kesehatan, promkes, trauma healing dan lain-lain, kegiatannya sangat seru dan anak-anak sangat aktif ketika bergoyang dan simulasi gempa lewat musik,”katanya.
Selain layanan kesehatan dan psikososial, PMI juga menyalurkan bantuan untuk mendukung kebutuhan siswa dan lingkungan SLB Karya Murni Ruteng.
Acik Apul yang bertugas di bidang distribusi menyampaikan bahwa bantuan ditujukan kepada 58 orang penerima manfaat berupa dignity kit dan hygiene kit.
“Kami melakukan pendistribusian bantuan berupa dignity kyt dan hygiene kyt masing-masing 31 box yang ditujukan kepada 58 orang penerima manfaat,” ujar Ancik.
Koordinator lapangan, Albertus W. B. Dugis, S.Kep., menjelaskan kategori bantuan dan jenis layanan yang diberikan di Yayasan SLB Karya Murni.
“Distribusi bantuan berupa dignity kyt atau kebutuhan khusus untuk perempuan dan hygiene kyt untuk perlengkapan kebersihan diri, sedangkan layanan yang dilaksanakan oleh kawan-kawan dilapangan adalah pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada yang sakit, promkes berupa edukasi dan simulasi 6 langkah mencuci tangan, etika batuk dan bersin serta psychosocial support service atau PSS,” kata Pa Wili Dugis.
Kehadiran PMI Kabupaten Manggarai di SLB Karya Murni Ruteng menunjukkan bahwa pelayanan kemanusiaan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan, edukasi, dan dukungan psikososial.
Kepala Sekolah SLB Karya Murni, Suster Theodosia, S.Pd., menjelaskan jumlah siswa dan guru serta kategori peserta didik yang mendapatkan layanan.
“Jumlah guru 25 orang sedangkan murid 78 orang, dengan kategori kelas autis, SD, SMP, dan SMA itu sekolah luar biasa (SLB), SLB-B itu bagian tuna rungu atau yang tidak mendengar dan juga tidak bisa bicara,” ujar Suster Theodoria.
Suster Theodosia mengaku bersyukur dan mengapresiasi kehadiran PMI di SLB Karya Murni untuk memberikan berbagai layanan kemanusiaan. Ia berharap PMI dapat kembali hadir untuk melakukan pemeriksaan golongan darah sebagai bagian dari upaya membangun kolaborasi dalam misi kemanusiaan.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PMI yang telah memberikan bantuan, tentunya kami sangat membutuhkan perlengkapan khusus untuk perempuan dan perlengkapan kebersihan diri, harapannya kalau ada pemeriksaan golongan darah lebih bagus, supaya bisa berkolaborasi ketika ada yang membutuhkan darah,” kata Suster Theodosia, mengakhiri.
Melalui kolaborasi dan layanan yang berkelanjutan, PMI Kabupaten Manggarai berkomitmen untuk terus hadir bersama masyarakat serta memastikan kelompok rentan mendapatkan dukungan dalam proses pemulihan pascabencana. (VFZ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....