Nasionalisme Generasi Muda di Era Digital Harus Berakar pada Identitas Indonesia

  • 29 Sep 2026 09:52 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) melihat perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda mengekspresikan rasa cinta tanah air. Perubahan tersebut terlihat dari bergesernya ruang interaksi masyarakat, dari ruang nyata atau citizen ke ruang digital sebagai netizen. Kondisi ini membuat ekspresi nasionalisme kini dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.

Direktur Pengkajian Materi BPIP, Dr. Irene Camelyn Sinaga, AP., M.Pd., mengatakan perkembangan globalisasi dan digitalisasi merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak sehingga perlu dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkuat nasionalisme generasi muda.

“Boleh berubah tempat, boleh berubah platform. Boleh kita sebagai citizen atau netizen. Tetapi yang kita butuhkan adalah how next, setelah itu kita harus menggali,” ujar Iren dalam Wawancara Kupang Pagi Ini, Selasa, 29 September 2026.

Menurutnya, ekspresi nasionalisme di ruang digital memiliki sisi positif sekaligus tantangan. Konten visual dapat menjadi sarana yang efektif untuk menggugah perhatian generasi muda, tetapi konten yang dikonsumsi secara cepat juga berpotensi hanya menjadi sesuatu yang bersifat sesaat.

Iren menilai nasionalisme tidak cukup hanya ditunjukkan melalui simbol, unggahan, maupun seremonial, tetapi harus berangkat dari pemahaman terhadap identitas dan akar budaya Indonesia. Karena itu, generasi muda perlu mengenali adat, budaya, lingkungan, serta berbagai kekayaan daerah sebagai bagian dari proses memahami keindonesiaan.

“Nasionalisme itu tidak akan terwujud kalau kita tidak mengenali siapa kita. Kita hanya mengatakan nasionalisme, saya nasionalis, tapi kita tidak pernah menggali,” katanya.

Ia mencontohkan, masyarakat dari berbagai daerah perlu memahami budaya dan identitas daerahnya masing-masing, sekaligus mengenal keberagaman daerah lain sebagai bagian dari Indonesia.

Dalam menggunakan media sosial, Iren mengingatkan generasi muda agar tidak terburu-buru mengategorikan sebuah unggahan sebagai bentuk nasionalisme. Menurutnya, sebuah konten perlu dilihat secara lebih mendalam, termasuk konteks, tujuan, dan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Kadang kita kalau di media sosial tidak boleh gampang menjustifikasi. Jadi harus kita kulik dulu, apa sih,” ujarnya.

Iren juga mendorong generasi muda membiasakan diri melakukan riset sebelum membuat dan menyebarluaskan konten. Menurutnya, kebiasaan membaca, menggali informasi, dan memahami konteks akan membuat ekspresi kecintaan terhadap Indonesia tidak berhenti pada tren sesaat.

“Mari diriset dulu, mari digali dulu, mari dibaca dulu literatur. Jangan spontanitas yang tidak mendalam,” kata Iren.

Ia menambahkan, belajar menjadi orang Indonesia tidak hanya berarti mempelajari sejarah, tetapi juga memahami kekayaan budaya, adat, potensi alam, serta pengetahuan lokal dari berbagai daerah.

“Jangan pernah tidak dalam setiap saat atau harimu belajar menjadi orang Indonesia. Belajar jadi bangsa Indonesia itu bagaimana? Bukan hanya berarti kamu belajar sejarah,” ujarnya, menegaskan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....