Mutiara Pagi: karena Tuhan yang Menyuruhnya
- 17 Sep 2026 10:50 WIB
- Kupang
RRI. CO.ID, Kupang - Kegagalan dan kekecewaan sering kali menghampiri perjalanan hidup manusia ketika perjuangan keras yang dilakukan tidak membuahkan hasil sesuai harapan. Reaksi manusiawi saat berada di titik lelah umumnya melahirkan rasa putus asa atau keinginan untuk menyerah. Hal tersebut menjadi sorotan utama yang disampaikan oleh Zakarias Paus Tola, S.Fil., Penyuluh Agama Katolik pada Bidang Urusan Agama Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Kupang berdasarkan permenungan dari bacaan Injil Lukas 5:1-11.
Kisah pemanggilan murid-murid pertama di Danau Genesaret menampilkan pergumulan Simon Petrus dan rekan-rekannya yang tidak menangkap seekor ikan pun sepanjang malam. Namun, saat Yesus meminta mereka bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala kembali, Simon menunjukkan ketulusan iman dengan berkata, "tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Zakarias menjelaskan bahwa tanggapan Simon merepresentasikan iman sejati yang melampaui logika manusia, di mana ia bersedia memberi ruang bagi kemahakuasaan Allah untuk bekerja hingga akhirnya membuahkan mujizat keberkahan yang berlimpah.
Keteladanan sikap Simon Petrus ini memicu pertanyaan mendasar bagi perjalanan iman umat beriman di masa kini. Menurut Zakarias, kontras terlihat antara sikap Simon yang percaya hanya dengan mendengar pengajaran Yesus, dibanding kaum Farisi dan imam kepala yang tetap menolak percaya meski menyaksikan begitu banyak tanda heran. Hal ini menjadi ajakan refleksi bersama untuk menilai apakah iman yang dihidupi saat ini memiliki kepasrahan seperti Simon atau justru dibatasi oleh kekerasan hati layaknya para pemimpin agama pada zaman itu.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari, banyak orang sering terjebak pada situasi pelik yang mirip dengan pengalaman para nelayan tersebut. Banyak orang telah berjuang susah payah namun tetap menghadapi kegagalan, bahkan berada di lingkungan yang tidak menghargai usaha, mencibir, atau memanfaatkan keringat mereka. Rasa sakit hati sering kali memicu dorongan untuk lari dari tanggung jawab atau membalas kejahatan dengan kejahatan.
Guna menghadapi dinamika kehidupan yang berat tersebut, ajakan Yesus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dimaknai sebagai panggilan untuk berani mengubah sikap hidup. Sama seperti perintah mengasihi musuh dan berdoa bagi yang menganiaya, umat diajak untuk bertolak ke kedalaman iman dengan menguji ketabahan, kesabaran, serta kesediaan untuk mengampuni. Meski nalar dan perasaan sering kali menolak karena rasa sakit yang mendalam, ketaatan pada sabda Tuhan menjadi kunci utama.
Ia menegaskan bahwa semangat kemuridan sejati terletak pada ketaatan tanpa syarat dan kepasrahan yang memberi ruang penuh bagi Tuhan untuk mengambil alih kemudi kehidupan. Pengorbanan, pelayanan, serta tetesan air mata yang diberikan demi kebaikan mungkin tidak langsung memperlihatkan hasil yang pasti. Namun, ketika tindakan tersebut dilandasi oleh keyakinan bahwa Tuhan yang memerintahkannya, maka segala perjuangan tersebut diyakini akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan pada waktunya.
Mengakhiri permenungannya, Zakarias Paus Tola mengajak seluruh pendengar untuk terus mencari suara Tuhan di tengah himpitan persoalan dan keputusasaan yang mengintai. Dengan melibatkan Tuhan secara total dalam setiap perjuangan hidup, umat beriman dipanggil untuk berani melangkah dengan tutur kata iman yang mantap: "karena Tuhan yang menyuruhnya, saya akan tetap melakukannya sekalipun sulit dan berat."
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....