Kemerdekaan Sejati Dimulai dari Keberanian Memperjuangkan Kebenaran
- 21 Agt 2026 11:40 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan untuk kembali merefleksikan makna kemerdekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan tersebut disampaikan Zakarias Paus Tola, S.Fil., Penyuluh Agama Katolik pada Bidang Urusan Agama Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, dalam renungan Mutiara Pagi RRI Pro 1 Kupang, Senin (17/8/2026), dengan tema “Kemerdekaan dalam Kebenaran” dan bacaan Injil Matius 22:15-21.
Zakarias mengajak umat merefleksikan cara mengimani Allah sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik. Ia mengangkat kisah ketika orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan mengenai kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Pertanyaan tersebut sengaja dibuat dilematis karena jawaban “ya” maupun “tidak” dapat digunakan untuk menjerat Yesus. Namun, Yesus mengetahui niat mereka dan menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Menurut Zakarias, jawaban Yesus tidak sekadar menyelesaikan persoalan pajak, tetapi juga membuka persoalan moral mengenai kejujuran dan integritas. Orang-orang Farisi disebut berani mengorbankan kebenaran demi kenyamanan. Karena itu, kebenaran menjadi senjata Yesus dalam menghadapi kemunafikan. Fakta dan kebenaran, katanya, tidak hanya mampu menyadarkan seseorang, tetapi juga dapat menjadi cermin yang menghakimi sikap dan niat yang tersembunyi.
Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, Zakarias menilai perjuangan membangun bangsa masih jauh dari selesai. Berbagai persoalan seperti kesejahteraan ekonomi, kerukunan antaragama, suku dan ras, pendidikan, kesehatan, politik serta ideologi masih menjadi tantangan. Momentum kemerdekaan, menurutnya, harus menjadi kesempatan bagi setiap warga negara untuk bertanya apakah dirinya sudah memiliki integritas, mampu bersikap jujur, menerima perbedaan serta berani mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran.
Ia mengingatkan bahwa krisis penghargaan terhadap kebenaran dapat terlihat ketika fakta dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Menurut Zakarias, ada fakta yang diputarbalikkan untuk menyenangkan pihak tertentu atau sekadar mendapatkan perhatian, sementara ketika kesalahan terbongkar masih ada upaya mencari pembenaran. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa kebenaran dan integritas sedang menghadapi tantangan serius dalam kehidupan masyarakat.
Zakarias kemudian mengajak masyarakat belajar dari para pahlawan yang berani mengorbankan kenyamanan, bahkan nyawa, demi keyakinan bahwa Indonesia harus merdeka. Ia mempertanyakan pilihan setiap warga negara saat ini: apakah rela mengorbankan kebenaran demi kenyamanan, atau sebaliknya berani mempertahankan kebenaran meskipun harus menghadapi risiko. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga harus diwujudkan melalui keberanian melawan ketidakadilan, ketakutan, kemiskinan, diskriminasi dan berbagai bentuk ketidakjujuran.
“Negara kita belum merdeka ketika masih ada yang mencari muka, negara ini belum merdeka ketika masih ada yang menjadi penjilat, negara ini belum merdeka ketika masih ada orang yang takut bersuara,” tegas Zakarias. Ia mengajak seluruh masyarakat mengisi rahmat kemerdekaan dengan memperjuangkan kemerdekaan diri dan sesama, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan menjaga integritas bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....