Mutiara Pagi: Menjadi Kabar Baik Bagi Sesama
- 17 Sep 2026 10:36 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Setiap hari manusia hadir dan membawa pesan bagi sesamanya, baik berupa kekuatan, damai, maupun luka melalui perkataan dan tindakan. Kehadiran seseorang dalam berinteraksi—baik di rumah, lingkungan kerja, hingga media sosial—dapat menentukan apakah beban hidup orang lain menjadi lebih ringan atau justru semakin berat. Hal tersebut ditegaskan oleh Penyuluh Agama Katolik Kanwil Kemenag Prov. NTT, Marselinus Elias Seso, S.Fil., dalam siaran Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang yang mengangkat tema "Menjadi Kabar Baik Bagi Sesama."
Di tengah situasi dunia yang dipenuhi konflik, kekhawatiran, dan tekanan hidup, masyarakat tidak sekadar membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang ajaran agama. Lebih dari itu, banyak orang merindukan sosok yang mau mendengarkan, menguatkan, mengampuni, serta hadir secara tulus. Mengutip kisah Injil Lukas saat Yesus berdiri di rumah ibadah Nazaret untuk membawakan pembebasan dan harapan, Marselinus menjelaskan bahwa Yesus tidak hanya mewartakan kabar baik, tetapi Ia sendiri hadir sebagai wujud nyata dari kabar baik itu sendiri.
| Baca juga: Mutiara Pagi : Menghidupkan Kasih Kristus |
Peran menjadi kabar baik diawali dengan kepekaan untuk melihat orang-orang yang sering kali terabaikan oleh masyarakat di sekitarnya. Selain kemiskinan materi, masih banyak individu yang mengalami "kemiskinan" perhatian, kesepian, serta luka batin akibat konflik keluarga maupun trauma masa lalu. Kehadiran yang tulus, kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, serta empati sederhana kerap kali jauh lebih dibutuhkan dibandingkan nasihat yang panjang atau sekadar wacana.
Iman yang sejati menuntut perwujudan konkret dalam tindakan sehari-hari agar nilai-nilai kasih dapat dirasakan secara nyata oleh sesama. Masyarakat mungkin jarang membaca Kitab Suci secara langsung, tetapi kehidupan sehari-hari orang beriman selalu menjadi cerminan yang dibaca oleh lingkungan sekitar. Ketika seorang anak merasa diterima orang tuanya, pasangan mau saling mengampuni, atau seorang pekerja memilih bertindak jujur, di situlah wujud nyata kabar baik terpancar.
Meski demikian, membawa kebaikan sering kali berhadapan dengan tantangan dan penolakan sebagaimana Yesus yang sempat ditolak oleh warga Nazaret karena pewartaan-Nya menantang kenyamanan mereka. Marselinus mengingatkan agar umat beriman berani menyatakan kebenaran yang dibalut dengan kasih, bukan dengan niat menghakimi. Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi senjata yang melukai, sedangkan kasih tanpa kebenaran akan kehilangan arah, sehingga keduanya harus senantiasa berjalan seimbang.
Medan perutusan untuk menjadi kabar baik tidak harus dimulai dari hal-hal besar atau tempat yang jauh, melainkan berawal dari lingkungan terdekat. Rumah, tempat kerja, komunitas, hingga ruang digital merupakan ladang utama untuk menyebarkan kedamaian. Kesaksian iman yang paling kuat lahir dari konsistensi tindakan kasih yang sederhana, seperti mendengarkan anggota keluarga yang lelah, bekerja secara jujur, hingga memberikan perhatian bagi mereka yang menderita.
Ajaran Injil tidak berhenti di bangku gereja pada hari Minggu saja, melainkan harus dihidupi dari hari Senin hingga Sabtu. Setiap orang menerima kasih dan pengampunan agar mampu membagikan kembali harapan tersebut kepada sesama. Melalui renungannya, Marselinus Elias Seso berharap masyarakat dapat menjadi saluran rahmat dan hadir bagi mereka yang sedang membutuhkan, bahkan lewat kesediaan sederhana untuk mendampingi sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....