Pakar UKAW: Kekeringan Jadi Tantangan Pertanian Lahan Kering NTT
- 15 Sep 2026 15:31 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Akademisi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang menilai kekeringan menjadi tantangan utama pengembangan pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur. Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan air, mengingat musim hujan di NTT berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan setiap tahun.
Dr. Nikodemus P.P.E. Nainiti, STP., MP., mengatakan musim kemarau yang berlangsung panjang menjadi tantangan serius bagi petani lahan kering. “Memang kita tahu bahwa NTT ini memiliki curah hujan yang rendah, dengan musim hujan hanya sekitar tiga sampai empat bulan,” ujarnya saat diwawancarai RRI Kupang, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Dr. Niko, kondisi tersebut membutuhkan strategi adaptasi melalui penerapan teknologi, pengelolaan tanah, dan pemilihan tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim. “Kita tidak bisa mengubah iklim atau mengubah musim kemarau, tetapi kita bisa melakukan adaptasi dengan teknologi,” katanya.
Ia menyebut pertanian lahan kering memiliki potensi besar karena wilayah tersebut lebih luas dibandingkan lahan basah, sehingga perlu dioptimalkan secara berkelanjutan. “Pertanian lahan kering ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar, karena wilayah lahan kering kita lebih dominan,” ucapnya.
Dr. Niko mendorong pemanfaatan teknologi seperti smart farming, greenhouse, Internet of Things, serta teknologi lain yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air. “Dengan teknologi, kita bisa mengatur penggunaan air, mengatur kondisi tanah, bahkan mengatur suhu sehingga produksi tanaman bisa lebih optimal,” ucapnya.
Selain produksi, ia menilai petani perlu memperkuat pengolahan hasil agar komoditas tidak selalu dijual dalam bentuk mentah ketika produksi meningkat. “Jangan sampai ketika produksi banyak, petani menjual dalam bentuk mentah dan harga kemudian turun, sehingga perlu ada diversifikasi pengolahan,” ujarnya.
Dr. Niko menekankan tiga faktor penting dalam pengembangan pertanian lahan kering, yakni ketersediaan air, kesuburan tanah, dan tanaman adaptif bernilai ekonomi. “Tiga hal yang harus diperhatikan adalah air, tanah dan tanaman, kemudian semuanya harus didukung pendampingan dari pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan pihak lainnya,” katanya, mengakhiri. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....