Mutiara Pagi: Orang Benar Hidup oleh Percaya kepada Tuhan

  • 02 Sep 2026 10:32 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Sumba - Saat keadaan tak berjalan seperti yang diharapkan, jawaban doa belum terlihat, bahkan keputusan Tuhan terasa sulit dipahami justru di situlah iman diuji dan dirajut menjadi kekuatan. Melalui renungan pagi bertema "Orang Benar Akan Hidup Oleh Percaya", Sherniyati Tamu Ina, S.Th. mengajak seluruh pendengar Mutiara Pagi di Studio Pro 1 RRI Sumba untuk meneladani sikap Nabi Habakkuk tetap memegang teguh keyakinan kepada Tuhan, meskipun akal budi belum sepenuhnya mengerti jalan-Nya.

Renungan yang merujuk pada Kitab Habakkuk pasal 2 ayat 1 hingga 5 ini mengangkat latar sejarah sekitar abad ke-6 SM, ketika bangsa Yehuda sedang berada di ambang kehancuran moral. Kekerasan merajalela, keadilan tercabik di pengadilan, dan orang benar semakin sedikit. Sang nabi pun tak kuasa menahan gelisahnya, bertanya kepada Tuhan berapa lama ketidakadilan itu dibiarkan terjadi namun jawaban yang diterimanya justru di luar dugaan Allah hendak menghukum Yehuda melalui bangsa Babel, bangsa yang bahkan tidak mengenal-Nya.

Pilihan Allah ini mengejutkan sekaligus membingungkan Habakkuk, sebab baginya bangsa Babel jauh lebih jahat dibandingkan Israel. Namun firman Tuhan menegaskan satu kebenaran mendasar Allah itu adil atas segala bangsa. Ia menghukum dosa tanpa pandang bulu Israel yang mengenal Tuhan sekalipun jatuh dalam dosa tetap dihukum, demikian pula Babel yang tidak mengenal Tuhan pun akan binasa karena kejahatannya. Di sinilah letak iman sejati dipercikkan nantikanlah itu, bila berlambat-lambat, nantikanlah itu.

Dalam ketidaktahuan dan kegelisahan itu, Habakkuk memilih satu jalan yang paling berharga bukan menuntut penjelasan, melainkan bersandar sepenuhnya kepada Allah. Ia menyadari bahwa akal manusia memiliki batas, tetapi hikmat dan waktu Allah sempurna adanya. Orang benar akan hidup oleh percayanya bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hidup tetap teguh bersama Tuhan di tengah badai sekalipun.

Pembawa renungan mengingatkan bahwa pola hidup Kristen kerap dihadapkan pada pertentangan antara janji firman dan kenyataan hidup. Seringkali ketaatan belum serta-merta membawa keberhasilan yang terlihat mata, sementara ketidakadilan masih bertahan lama. Namun, justru di ruang penantian inilah iman bertumbuh jangan kecewa kepada Tuhan ketika jawaban belum datang, sebab Dia tidak pernah salah waktu dan tidak pernah lupa janji-Nya. Diperlukan kerendahan hati untuk meyakini bahwa cara Allah lebih tinggi dari cara kita.

Sebagai penutup, Sherniyati Tamu Ina, S.Th. mengajak jemaat dan pendengar untuk menjadikan iman sebagai pola hidup sehari-hari. Seperti janji Nabi Habakkuk di akhir pasalnya sekalipun ladang tak berbuah, kawanan ternak lenyap tetap bersorak-sorak di dalam Tuhan. "Jangan biarkan keadaan mematahkan iman," ujarnya. Tetaplah memuji, tetaplah setia, dan percayalah Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang bersandar kepada-Nya.(YL)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....