Rehabilitasi Hutan membuka Peluang Ekonomi Bagi Masyarakat
- 26 Agt 2026 16:09 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Program rehabilitasi hutan dan lahan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya memberikan manfaat terhadap pemulihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan rehabilitasi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTT, Sulastri H.I. Rasyid menyebut, kegiatan rehabilitasi yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat dapat memberikan manfaat ekonomi melalui pemanfaatan tanaman sela.
Tanaman sela memungkinkan masyarakat memperoleh hasil dari lahan rehabilitasi sembari menunggu tanaman utama tumbuh. Menurut Sulastri, masyarakat di sekitar kawasan rehabilitasi dilaporkan dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per minggu dari tanaman sela.
Pendapatan tersebut menjadi salah satu manfaat langsung yang dapat dirasakan masyarakat dari kegiatan rehabilitasi lahan. Pemanfaatan tanaman sela juga menunjukkan bahwa kegiatan pemulihan hutan tidak harus berhadapan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Dengan pola pengelolaan yang tepat, rehabilitasi dapat dirancang agar fungsi ekologis kawasan tetap berjalan sekaligus memberikan sumber penghasilan bagi warga. Selain manfaat ekonomi, dampak lingkungan dari rehabilitasi juga mulai dirasakan masyarakat.
Salah satunya adalah meningkatnya ketersediaan mata air di sekitar kawasan yang direhabilitasi. Pemulihan tutupan vegetasi berperan dalam memperbaiki tata air.
Vegetasi membantu memperlambat aliran permukaan ketika hujan dan memberikan kesempatan lebih besar bagi air untuk meresap ke dalam tanah. Air yang tersimpan kemudian dapat menjadi cadangan yang mendukung keberadaan sumber air, termasuk mata air.
Manfaat tersebut menjadi sangat penting bagi masyarakat TTS yang harus menghadapi periode musim kering setiap tahun. Ketersediaan mata air dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun mendukung kegiatan pertanian dan peternakan.
Keterkaitan antara pemulihan hutan, ketersediaan air, dan peningkatan pendapatan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan program rehabilitasi. Masyarakat memiliki alasan ekonomi sekaligus ekologis untuk menjaga tanaman yang telah ditanam. Ketika masyarakat memperoleh manfaat langsung dari kawasan rehabilitasi, keberlanjutan pemeliharaan tanaman juga berpeluang menjadi lebih kuat.
Tanaman yang tumbuh tidak hanya berfungsi memperbaiki lingkungan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan melalui hasil tanaman sela. Model tersebut dapat menjadi contoh bahwa rehabilitasi lahan perlu memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.
Pendekatan yang hanya berfokus pada jumlah pohon yang ditanam tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat berisiko menghadapi tantangan dalam pemeliharaan jangka panjang. Karena itu, pengembangan rehabilitasi berbasis masyarakat perlu terus didorong dengan memilih jenis tanaman dan pola tanam yang sesuai dengan kondisi lahan.
Pendampingan terhadap masyarakat juga diperlukan agar manfaat ekonomi dapat diperoleh tanpa mengurangi tujuan utama pemulihan fungsi ekologis kawasan. Pengalaman di TTS menunjukkan bahwa rehabilitasi hutan dapat memberikan manfaat berlapis.
Ketika lahan kembali memiliki tutupan vegetasi yang baik, lingkungan menjadi lebih mampu menjaga air, sementara masyarakat memperoleh peluang untuk meningkatkan pendapatan. Dengan demikian, rehabilitasi hutan tidak semata-mata menjadi program penanaman pohon.
Jika dikelola secara tepat dan melibatkan masyarakat, kegiatan tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang untuk memulihkan sumber air, memperbaiki kualitas lingkungan, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di sekitar kawasan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....