BRIN dan Komisi X DPR RI Dorong Budidaya Sorgum di Kabupaten Kupang
- 22 Agt 2026 14:05 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi besar untuk mengembangkan tanaman sorgum sebagai pangan sehat alternatif pengganti beras. Tanaman serealia ini dinilai cocok dengan kondisi wilayah Kabupaten Kupang yang didominasi lahan kering dan memiliki cuaca panas.
Melihat potensi tersebut, Komisi X DPR RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemerintah daerah, camat, lurah, kepala desa, hingga petani untuk mengoptimalkan lahan kering melalui pengembangan budidaya sorgum.
Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah, mengatakan pengembangan sorgum merupakan salah satu upaya mendorong sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di NTT. Menurut Anita, masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai manfaat sorgum, baik sebagai sumber pangan maupun untuk mendukung kesehatan.
| Baca juga: NTT Mart Dorong UMKM Tembus Pasar Nasional |
Ia pun mengajak para camat, lurah, dan kepala desa di Kabupaten Kupang ikut berperan mengedukasi masyarakat agar lahan-lahan kering yang selama ini kurang produktif dapat dimanfaatkan untuk budidaya sorgum. Anita berharap BRIN terus mendampingi petani di NTT melalui pelatihan, khususnya terkait teknik budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan sorgum sebagai pangan alternatif.
“Kabupaten Kupang memiliki lahan yang sangat luas dan cocok untuk shorgum, jadi memang kita harus memberikan perhatian untuk Kabupaten Kupang bagaimana caranya meningkatkan produktivitas, proses peningkatannya seperti apa, itu yang kita dorong. Dan melalui Brin, dengan hasil-hasil riset yang dilakukan, saya yakin masyarakat di Kabupaten Kupang pasti hasil produksinya lebih meningkat lagi,” kata Anita Gah saat diwawancara RRI di Kupang, Kamis, 20 Agustus 2026.
“Di Kabupaten Kupang ini, kita lagi mengangkat tentang Shorgum karena saya lihat inikan shorgum banyak, bagaimana meningkatkan produktivitasnya. Kalau mereka bilang mereka butuh lahan yang lebih banyak untuk menghasil shorgum dengan jumlah besar, dengan Brin saya yakni satu hectare saja bisa ber ton-ton, karena hasil teknologi,” ujarnya lebih lanjut.
Ia berharap, hadirnya Brin, akan memberi perubahan besar mendorong petani Shorgum di NTT terus meningkatkan kapasitas hasil pertaniannya. Sementara terkait pemasaran, ia menyebut ada pola lain yang bisa dikembangkan yakni mengolahnya menjadin tepung, dan dari tepung bisa menjadi roti yang siap dipasarkan,” tuturnya.
Sementara itu, Peneliti Utama BRIN, Prof. Dr. I Gusti Komang Dana Arsana, mengatakan hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS) menunjukkan kedua wilayah tersebut memiliki kondisi yang sangat mendukung pengembangan sorgum. Kabupaten Kupang, kata dia, memiliki lahan kering yang luas dan kondisi cuaca panas. Karakteristik tersebut justru menjadi keunggulan dalam pengembangan tanaman sorgum yang relatif mampu beradaptasi pada kondisi kering.
“Saya sangat berharap nanti program shorgum ini bisa berlanjut, misalnya di Kupang ini ada seribu hectare, di Sumba ada seribu, di Flores apalagi dia lebih banyak, karena kondisinya bagus. Saya orang pemerintah tetapi saya mengkritik pemerintah sendiri, kenapa shorgum ini tidak dijadikan program nasional, pada shorgum ini sangat baik untuk dikembangkan dan mengurangi orang makan nasi,” kata Prof. Komang.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, Sarlintje Lado, mengatakan sejumlah petani di wilayahnya telah mulai mengembangkan sorgum karena tanaman tersebut dinilai sesuai dengan kondisi daerah. Meski demikian, pengembangan sorgum masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pemasaran serta bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk olahan berbahan dasar sorgum.
Karena itu, pelaksanaan Bimbingan Teknis Peningkatan Produktivitas dan Pengolahan Sorgum di NTT, yang digelar Kamis, 20 Agustus 2026 di Kupang, diharapkan menjadi bagian dari upaya mencari solusi terhadap berbagai tantangan tersebut. Kerja sama BRIN dan Komisi X DPR RI melalui kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi sorgum, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan dan membuka peluang pemasaran produk sorgum.
Dengan dukungan riset, pendampingan, dan keterlibatan pemerintah hingga masyarakat desa, sorgum diharapkan tidak sekadar menjadi tanaman alternatif di lahan kering, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu sumber pangan sehat dan penggerak ekonomi masyarakat NTT. (at)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....