GAMKI NTT Dorong Pemuda Jadi Kekuatan Demokrasi Masa Depan
- 21 Agt 2026 16:23 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Generasi muda di Nusa Tenggara Timur (NTT) didorong tidak hanya menjadi pemilih dalam setiap momentum pemilu, tetapi mampu tampil sebagai warga negara yang cerdas, kritis, inklusif, serta aktif mengawal kehidupan demokrasi. Hal itu disampaikan Daniel Tonu, Wakil Ketua DPD GAMKI NTT sekaligus Koordinator Program Sekolah Demokrasi Pemuda Gereja GAMKI, dalam dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang, Kamis, 13 Agustus 2026.
Daniel menjelaskan, Sekolah Demokrasi Pemuda Gereja GAMKI dirancang sebagai pendidikan kewargaan dan kaderisasi demokrasi bagi orang muda secara lebih sistematis, berkelanjutan, dan nonpartisan. Menurutnya, program tersebut tidak diarahkan untuk mengajarkan peserta memilih calon tertentu, melainkan membentuk kemampuan pemuda agar mampu memilih secara rasional, memahami konstitusi, menguji informasi, menolak politik uang, menghargai perbedaan, serta mengawasi kekuasaan secara bertanggung jawab.
“Orientasi kami adalah transformasi dari pemilih menjadi warga negara yang kritis, dari pemuda gereja menjadi pemuda yang kritis, dan dari orang muda menjadi penggerak demokrasi yang hebat,” ujar Daniel.
Ia mengatakan, peserta Sekolah Demokrasi tidak hanya berasal dari kalangan pemuda gereja dan kader GAMKI. Program tersebut terbuka bagi mahasiswa, pemilih pemula, organisasi kepemudaan, perempuan muda, penyandang disabilitas, pemuda di wilayah terpencil, hingga kelompok lintas iman. “Kami GAMKI sangat terbuka untuk anak-anak muda untuk bergabung. Kita sekolah bersama-sama berkaitan dengan demokrasi dan kepemiluan,” katanya.
Daniel menambahkan, Sekolah Demokrasi akan dikemas dalam pendidikan intensif sekitar dua minggu dengan metode pembelajaran partisipatif. Peserta tidak hanya menerima ceramah, tetapi juga mengikuti studi kasus, diskusi, simulasi pemilu dan pengawasan, analisis politik lokal, praktik verifikasi informasi, latihan advokasi, penulisan karya ilmiah, serta proyek aksi demokrasi.
Untuk tahap awal, GAMKI menargetkan sekitar 50 hingga 80 peserta dan membuka peluang hingga 100 peserta. Daniel menegaskan, program tersebut tidak berhenti setelah sekolah induk selesai. Peserta nantinya dipersiapkan menjadi trainer yang dapat meneruskan pendidikan demokrasi di gereja, komunitas, cabang GAMKI, desa, maupun organisasi kepemudaan.
“Dua atau tiga minggu ini sekolah induk, training of trainers. Dari situ baru penugasan para trainer untuk mengerjakan pendidikan politik dan pendidikan demokrasi di gereja-gereja mereka, di cabang GAMKI, di komunitas desa, di Karang Taruna,” ujarnya.
Menurut Daniel, keberhasilan program akan diukur dari seberapa luas jangkauan peserta setelah mengikuti pelatihan, termasuk jumlah kegiatan penyuluhan atau diskusi yang dilakukan di komunitas, gereja, maupun lingkungan masing-masing. Ia menyebut program ini sebagai bagian dari gerakan besar GAMKI untuk memperkuat pendidikan demokrasi orang muda di NTT. “Kita ingin tularkan ini seluas-luasnya. Tidak mudah, tapi kita harus memulai langkah,” kata Daniel.
Di akhir dialog, Daniel menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda NTT agar tidak menyerahkan keputusan politik kepada orang lain. Ia mengingatkan pemilih pemula untuk tidak memilih karena ikut-ikutan, melainkan melakukan pemeriksaan terhadap calon dan informasi yang diterima. “Kenali calon, kaji program, periksa informasi, jangan jual pilihan dan berani menentukan pilihan sendiri,” katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....