Mutiara Pagi: Meninggalkan Keraguan, Mengikuti Jalan Kristus

  • 07 Jun 2026 18:08 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang: Keraguan, ketakutan, dan berbagai tekanan hidup sering kali menjadi hambatan bagi seseorang untuk bertumbuh dalam iman dan menemukan harapan. Di tengah kesibukan pekerjaan, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, hingga derasnya arus informasi, banyak orang cenderung mencari jawaban dari dunia dan perlahan menjauh dari kepekaan terhadap suara Tuhan. Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa berjalan sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang, Penyuluh Agama Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Marselinus Elias Seso, S.Fil., mengajak umat untuk meninggalkan keraguan dan berani mengikuti jalan Kristus. Menurutnya, tema tersebut terinspirasi dari kisah Bartimeus dalam Injil Markus 10:46-52 yang menunjukkan keteguhan iman seorang pengemis buta yang tetap berharap kepada Yesus di tengah berbagai keterbatasan dan tekanan dari orang-orang di sekitarnya.

Marselinus menjelaskan bahwa Bartimeus bukan hanya digambarkan sebagai pribadi yang mengalami kebutaan fisik, tetapi juga menjadi simbol manusia yang hidup dalam keterbatasan, kegelapan, dan ketidakberdayaan. Meski berada di posisi yang tersisih, Bartimeus tetap percaya dan berseru kepada Yesus sebagai Mesias. Sikap tersebut menunjukkan bahwa iman tidak selalu dimulai dari kemampuan melihat bukti, melainkan dari keberanian untuk mempercayakan diri kepada Tuhan.

Ia menegaskan bahwa penghalang terbesar dalam kehidupan sering kali bukan situasi yang dihadapi, melainkan keraguan dan ketakutan yang dipelihara dalam hati. Menurutnya, banyak orang memilih tetap berada di “pinggir jalan kehidupan” karena takut gagal, terluka oleh masa lalu, atau terlalu memikirkan penilaian orang lain. Padahal, Tuhan terus memanggil setiap orang untuk bangkit dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Lebih lanjut, Marselinus menyoroti tindakan Bartimeus yang meninggalkan jubahnya ketika dipanggil Yesus. Ia menjelaskan bahwa jubah tersebut melambangkan berbagai hal yang mengikat manusia, seperti rasa takut, egoisme, kebiasaan buruk, luka batin, hingga kenyamanan semu yang menjauhkan seseorang dari Tuhan. Karena itu, setiap orang diajak untuk berani melepaskan hal-hal yang menghambat pertumbuhan iman dan pembaruan hidup.

Menurutnya, tantangan umat beriman saat ini juga datang dari berbagai “suara” yang melemahkan iman, baik melalui tekanan hidup, penilaian orang lain, kesibukan sehari - hari, maupun pengaruh media sosial yang dapat mengaburkan nilai-nilai Kristiani. Karena itu, ia mengajak umat untuk semakin setia dalam doa, refleksi, dan membangun relasi pribadi dengan Tuhan agar mampu membedakan suara Tuhan dari berbagai pengaruh negatif yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir permenungannya, Marselinus mengingatkan bahwa kisah Bartimeus tidak berhenti pada kesembuhan, melainkan berlanjut pada keputusan untuk mengikuti Yesus. Ia menegaskan bahwa iman sejati tidak hanya menerima berkat, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pelayanan, kepedulian terhadap sesama, serta kesetiaan menjalani nilai-nilai Kristiani. “Jangan tetap duduk di pinggir jalan. Bangkitlah, tinggalkanlah keraguan, lepaskan apa yang mengikat hati, dan melangkahlah mengikuti Kristus,” pesannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....