Pengungsi Gempa Manggarai Timur Kesulitan Obat-obatan, Posko Kecil Minim Bantuan
- 20 Agt 2026 14:43 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kebutuhan kesehatan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi warga terdampak gempa di Kelurahan Nangabaras, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur. Selain kebutuhan pangan dan air bersih, warga mengaku kesulitan memperoleh obat-obatan, terutama karena lokasi posko pengungsian mereka cukup jauh dari posko utama.
Rince Emba, warga Kelurahan Nangabaras, mengatakan obat-obatan dan kebutuhan kesehatan anak-anak menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi para pengungsi. “Obat-obatan, kebutuhan untuk anak-anak juga setengah mati,” ujar Rince.
Menurutnya, sebenarnya terdapat persediaan obat-obatan di posko utama. Namun, warga dari posko-posko kecil mengalami kesulitan untuk mengambilnya karena keterbatasan bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi itu membuat warga memilih bertahan di posko masing-masing. “Memang sebenarnya ada banyak obat-obat di posko utama. Cuma karena kami kehabisan BBM mau jalan ke sana, terpaksa kami duduk tenang saja di sini,” katanya.
Warga di Kelurahan Nangabaras sendiri membuat sejumlah posko kecil untuk menghindari penumpukan pengungsi di satu lokasi. Rince menyebut terdapat sekitar 16 posko kecil di wilayah tersebut.
Pola pengungsian yang tersebar ini membuat distribusi bantuan, termasuk kebutuhan kesehatan, tidak selalu menjangkau seluruh warga. “Kalau misalnya di sini kekurangan, kami diam saling bantu saja,” ujarnya.
Keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar juga dirasakan dalam pemenuhan pangan. Untuk menghemat persediaan beras, warga terpaksa mengandalkan ubi sebagai makanan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, warga juga masih dihantui ketakutan terhadap gempa susulan dan potensi tsunami. Mereka memilih tetap berada di luar rumah dan menunggu informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum kembali beraktivitas secara normal.
“Pokoknya serba takut mau buat kegiatan apa-apa. Sampai menunggu dari BMKG bilang aman. Mau masuk di dalam rumah juga kami takut,” kata Rince.
Untuk kebutuhan air bersih, kondisi warga relatif lebih baik karena posko mereka masih berada di sekitar permukiman. Namun, keberlangsungan pasokan tersebut tetap bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
Sementara bantuan pemerintah yang diterima warga di posko Rince masih terbatas. Ia menyebut bantuan dari kelurahan antara lain berupa lima hingga 6 kilogram beras dan sepuluh butir telur.
Bantuan tersebut harus dibagi untuk banyak orang. “Bayangkan enam butir untuk 16 (posko) kakak kan tidak bisa,” ujarnya.
Rince berharap pemerintah dan lembaga terkait mempercepat penyaluran bantuan, terutama kepada warga yang berada di posko-posko kecil dan belum banyak tersentuh bantuan. “Kami sangat berharap untuk lebih cepat lagi penyaluran bantuan, karena banyak yang tidak dapat bantuan. Kami hanya butuh supaya agak lebih cepat,” katanya.
Bagi warga yang masih bertahan di posko pengungsian, obat-obatan menjadi kebutuhan penting yang tidak bisa ditunda. Selain memastikan ketersediaan pangan dan air bersih, distribusi bantuan kesehatan hingga ke posko-posko kecil dinilai perlu diperkuat agar warga, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, tetap mendapatkan penanganan ketika membutuhkan obat. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....