Gempa M7,7 Flores, 20 Orang Meninggal

  • 17 Agt 2026 03:59 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang — Penanganan pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, terus dilakukan tim SAR gabungan. Hingga Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB atau 19.00 WITA? Data laporan Sitrep ke-4 Basarnas mencatat 20 orang meninggal dunia, enam orang luka-luka atau luka berat, dan dua orang masih tertimbun reruntuhan.

Dengan demikian, total sementara korban terdampak yang terdata mencapai 28 orang. Data tersebut masih bersifat sementara dan dalam proses verifikasi serta konsolidasi di lapangan.

(Persiapan Basarnas untuk mengevakuasi korban bencana di Flores)

Korban meninggal dunia tercatat di sejumlah wilayah. Kabupaten Manggarai Timur melaporkan delapan orang meninggal dan dua orang luka berat. Kabupaten Sikka mencatat tiga orang meninggal dan dua orang luka-luka.

Sementara di Manggarai Barat terdapat satu korban meninggal dan dua orang mengalami luka berat. Di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, delapan orang meninggal dunia dan dua orang masih tertimbun reruntuhan.

Hingga pembaruan terakhir, belum terdapat data korban teridentifikasi dari Kabupaten Nagekeo dan Ngada.

(Tim SAR mulai dikerahkan untuk.mengevakuasi korban di sejumlah titik)

Tim SAR Dikerahkan ke Sejumlah Wilayah

Basarnas mengerahkan sejumlah unsur untuk memperkuat operasi pencarian dan pertolongan. Tim Rescue Kantor SAR Maumere diberangkatkan menuju Nagekeo melalui jalur darat dengan dua kendaraan.

Tim Rescue Unit Siaga SAR Ende juga bergerak menuju Nagekeo. Namun, pergerakan tim masih terkendala longsoran di Kampung Pombara, Ende. Pembersihan material longsor dilakukan menggunakan excavator.

Dari wilayah barat Flores, Tim Rescue Pos SAR Labuan Bajo bergerak menuju Reo, Kabupaten Manggarai, untuk menangani laporan korban tertimbun.

Selain itu, KN SAR 250 Puntadewa telah diberangkatkan menuju wilayah Kabupaten Nagekeo untuk memperkuat operasi SAR.

Koordinasi penanganan dilakukan bersama TNI, Polri, BPBD, BMKG, pemerintah daerah, PMI dan berbagai pemangku kepentingan terkait.

Akses Jalan Masih Terganggu

Kondisi geografis dan dampak gempa menjadi tantangan dalam mobilisasi tim SAR. Sejumlah akses jalan dilaporkan tertutup longsor maupun material batuan.

Dokumentasi lapangan menunjukkan adanya roadblock akibat longsor di wilayah Ruteng, Manggarai, serta longsoran yang menutup jalur Trans Ende–Bajawa.

Kondisi tersebut menyebabkan pergerakan personel dan sarana SAR harus dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi akses di lapangan.

Selain infrastruktur jalan, sejumlah bangunan dan fasilitas publik juga dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk di wilayah Manggarai dan Manggarai Barat. Dampak juga dilaporkan terjadi pada fasilitas atau terminal pelabuhan di Maumere, Kabupaten Sikka.

Peringatan Tsunami Berakhir

Sementara itu, peringatan tsunami akibat gempa telah berakhir berdasarkan informasi BMKG PD-4 pada pukul 07.31.30 WIB.

Tsunami terdeteksi di 10 lokasi pemantauan. Pengukuran tertinggi tercatat di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter. Selanjutnya Bulukumba 0,54 meter, Pelabuhan Kewapante–Sikka 0,38 meter, dan Labuan Bajo 0,36 meter.

Basarnas menegaskan angka tersebut merupakan hasil pengukuran stasiun pemantauan dan tidak secara langsung menggambarkan tinggi maksimum run-up maupun tingkat inundasi di daratan.

BSG Disiapkan

Untuk memperkuat operasi, Basarnas Special Group (BSG) disiapkan menuju wilayah Maumere dan Flores. Perkuatan unsur SAR akan digerakkan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan situasi dan kondisi akses.

Basarnas menyatakan proses asesmen, pendataan korban, identifikasi kerusakan, serta operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung. Data korban maupun dampak kerusakan masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....