Bencana Kekeringan Ekstrem Berpotensi Ancam Wilayah Kabupaten Kupang
- 15 Agt 2026 09:42 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Kabupaten Kupang kini sedang menghadapi potensi ancaman bencana kekeringan ekstrem akibat fenomena ganda El Nino. Bencana ini memicu krisis air bersih, kegagalan panen, serta tingginya risiko kebakaran hutan di wilayah tersebut.
"Tercatat ada tiga pusat ekstrem kekeringan, di antaranya Lelogama yang sudah 82 hari tanpa hujan. Sementara di Fatuleu Barat sudah 77 hari tanpa hujan, dan ada juga daerah yang 70 hari tanpa hujan," ucap Ketua Forum Penanggulangan Resiko Bencana Kabupaten Kupang Elfrid Saneh, Selasa 11 Agustus 2026.
Wilayah Kabupaten Kupang mayoritas berada pada status siaga dan awas akibat kemarau panjang ini. BMKG memproyeksikan curah hujan rendah di bawah 10 mm akan terus berlangsung di 22 kecamatan di wilayah tersebut.
Dampak dari minimnya curah hujan ini kian meluas, terutama pada sektor pertanian yang mengalami gagal panen dan krisis ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga. Selain itu, topografi wilayah yang didominasi sabana mempertinggi potensi kebakaran lahan.
"Kekeringan saat ini bukan hal yang merata sebenarnya karena ada pusat ekstremnya. Ancaman nyata yang terjadi saat ini adalah krisis air bersih di mana-mana, gagal panen atau puso, dan risiko tinggi kebakaran hutan serta lahan," lanjut Elfid.
Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait telah menggelar rapat koordinasi guna menyiapkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan ini. Beberapa langkah darurat seperti distribusi air bersih mulai difokuskan ke wilayah yang masuk dalam zona merah atau awas.
"Kami menegaskan ada tiga hal penting yang harus segera kita lakukan yaitu mitigasi air bersih ke zona merah. Kemudian manajemen pertanian dan peternakan ramah air, serta mencegah kebakaran hutan dan lahan," ungkap Elfrid.
Kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana kekeringan ini. Masyarakat juga diimbau untuk menghemat penggunaan air bersih serta menghindari aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran meluas akibat embusan angin timuran yang kencang. (ST)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....